|
Popularitas dan Pencitraan, Untuk Apa?
|
|
Oleh Harrison Papande Siregar
Kamis, 11 Juni 2009 23:55 |
|
|
|
|
|
Pencitraan dan popularitas seorang capres tidak berkorelasi dengan kebijakan populis. Popularitas belum tentu berkaitan dengan kebijakan populis. Seorang capres yang populer belum tentu populis (pro rakyat kecil). Suatu tindakan populis dapat membuat dirinya populer , tapi bisa juga tidak. Popularitas perlu, tapi lebih penting sosok kepemimpinan yang populis. Negeri ini mundur ke belakang, jika pencitraan dan popularitas yang membuat capres tertentu, terpilih pada pilpres ini. Apa lagi, pemerintah di seluruh dunia selalu menyatakan, “terus berjuang untuk rakyat”. Tapi, rakyat yang mana ? Demikianlah, penggalangan pencitraan capres tertentu dari kalangan mantan (pensiunan) militer pada pilpres ini, membuar rakyat kurang rasional dan cerdas. Penggalangan citra dan popularitas bagaimanapun akan menghambat pendidikan politik rakyat dan iklim politik yang kondusif. Cara-cara itu kurang mendidik masyarakat dalam proses politik, bahkan dapat menyesatkan masyarakat. Keterlibatan para pengusaha besar dalam mendanai kampanye pilpres ini memprihatinkan. Banyak kebijakan pemerintah nanti akan berpihak pada para pengusaha ketimbang kepentingan rakyat kecil. Bagaimana tidak ? Penyumbang dana kampanye akan mendapatkan kue ekonomi (economic pie). Setidak-tidaknya, mereka akan menjaga citra dan popularitas capres tertentu yang belum tentu berpihak pada rakyat kecil (populis), ekonomi kerakyatan dan kemandirian ekonomi bangsa. Kepentingan penyandang dana pada kampanye ini akan mengganggu pengambilan keputusan politik-ekonomi dan bidang-bidang lain. Media massa yang objektif diharapkan ikut mengkritisi kecenderungan itu. Soalnya, tahun 2009 ini merupakan tahun yang tersisa untuk membenahi bangsa ini. Harrison Papande Siregar-Mahasiswa UI-FISIP jurusan Adm. Negara
|