Bintang Timor Leste : Aida Belo & Xanana Gusmao
Oleh A.Kohar Ibrahim    Sabtu, 20 Februari 2010 18:38    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 2
KurangTerbaik 
Facebook 8 Februari 2010

Bintang Timor Leste : Aida Belo & Xanana Gusmao


by A.Kohar Ibrahim


FACEBOOK dalam kenyataannya memang merupakan jejaringan sosio-budaya yang ke-luas-luwes-annya luar biasa. Merupakan pusat temu  yang kait mengait lokal, nasional hingga mondial. Siapa sangka, misalnya, barusan aku ketemu salah seorang puteri negara muda : Timor Leste. Bernama Aida Belo atau lengkapnya : Belo Pereira Aida. Bukan hanya itu, puteri kelahiran 26 Februari 1984 ini, selain seorang patriotis demokratis, juga seorang artis – pencinta seni musik dan seni suara. Pemain piano juga penyanyi seperti contohnya,  antara lain, bisa kita nikmati dalam rekaman video YouTube  berjudul « Imi Atu Ba Nebe » bersama Tony Pereira.

Dari cakap-cakap ringkas, dan dari album fotonya, saya terkagumkan dambaannya pada kesenian, terutama sekali seni musik dan seni suara. Dan cita-citanya yang tinggi untuk memperkenalkan sekaligus mengangkat Timor Leste ke arena nasional pun internasional. Aktivitas-kreativitas Aida Belo telah menjadika dirinya bintang cemerlang Timor Leste, menjadi kebanggaan dan dihargai oleh para pemimpin negara tetangga Indonesia itu, seperti Xanana Gusmao dan Jose Ramos-Horta.

Sungguh menggelitik pertemuan di Facebook dengan Aida Belo ini, karena seketika mengingatkanku pada « pertemuan » via internet dua puluhan tahun lalu dengan sosok-sosok Pemberontak Timor Timur seperti Xanana dan Ramos-Horta. Pun menyegarkan ingatan « pertemuan »ku dengan salah seorang penyair bernama Kesabere. Sang Komandante Gerilyawan Xanana yang selain jurnalis juga penyair, pun Kesabere pernah mengisi halaman-halaman terbitan yang aku editori. Seperti majalah Kreasi dan majalah Arena.

Aku mengenal lebih jauh Xanana via laporan jurnalis Robert Domm, yang disiar majalah Australia The Age edisi Oktober 1990. Rekaman pelawatan sang wartawan tersebut kami siar ulang dalam bahasa Indonesia, dengan judul: “Pemberontak Pemberontak Timor Terus Berjuang Dengan Semangat Tak Tergoyahkan” . Termuat dalam Majalah Arena N° 3 1990-91. Sedangkan dalam Arena N° 10 (1993), kami turunkan siaran Amnesti Internasional yang memberitakan Xanana Gusmao Pemimpin Gerakan Pembebasan Timor Timur telah dijatuhi Hukuman Seumur Hidup. Berita yang mengundang protes bagi yang bersimpati pada perjuangan Rakyat Timtim dan pembela Hak Hak Azasi Manusia. Seperti antara lain, kami siarkan Pernyataan Aksi Setiakawan Mengenai Timor Timur ( tertanggal Amsterdam 23 Mei 1993).

Akan halnya penyair Kesabere, aku mendapat kehormatan untuk turut menyebarkannya dengan mengedit dan menerbitkannya dalam bentuk Kumpulan Puisi berjudul “Menari Mengelilingi Planet Bumi” (Edisi khusus Kreasi N° 23 1995).

Itulah, antara lain, bukti tercetak-siar partisipati sekaligus simpati kami pada perjuangan Rakyat Timor Leste dalam masa yang gelap suram yang berkucur keringat dan darah. Untuk memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan, tak kurang dari 200.000 jadi korban – dari sejumlah penduduk yang hanya 700.000 jiwa!

Kemudian, selain kegigihan dan pengorbanan juga berkat dukungan internasional, Timor Timur mencapai kemerdekaannya. Yang dalam babak seterusnya kembali menjalin tata hidup berdampingan secara damai dengan tetangga terdekatnya: Indonesia. Saling hormat menghormati selayaknya.

Sebagai tambahan referensi, berikut ini salah sebuah naskah yang saya susun dan disiar pertama kali edisi cetak & online Harian Batam Pos 28 Mei 2005. Berjudul: “Foto Xanana Presiden Intelektual”.

Kepada pembaca sekalian yang berkenan, saya ucapkan terimakasih dan persilakan. (AKI).

Facebook 8 Januari 2010.

*


A.Kohar Ibrahim:

Foto Xanana Presiden Intelektual

Esai
Impresi dari Eropah (9)


SALAH satu berita faktual lagi aktual yang cukup signifikan dari kawasan Nusantara Jumahat 20 Mei 2005 ini tentulah upacara perayaan ulang tahun ketiga kemerdekaan sekaligus berdirinya negara Republik Demokratik Timor Lorosae. Di bawah Presiden pertamanya Xanana Gusmao.

Dalam pidatonya di depan beriru-ribu massa rakyat dengan rendah hati mengingatkan bahwa sekalipun selama 3 tahun ini telah dicapai kemajuan yang signifikan dalam perihal kedamaian dan keamanan, namun masih diperlukan daya upaya nation-building  lebih-lebih lagi, terutama sekali di bidang ekonomi.

Xanana memang seorang pemimpin yang selain mengemban idealisme juga realisme. Suatu ramuan yang dibawakan secara bijaksana audah dari sejak masa perjuangannya yang panjang. Oleh karena itulah rupanya dia bisa memetik rasa simpati. Termasuk penampilannya di depan kamera atau lensa jurupotret.

Dari serangkai foto yang paling mengesankan dari yang tak terbilang banyaknya disiarkan media massa belakangan ini, menurut hemat saya salah satunya adalah foto Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudohono mengunjungi Republik Demokratik Timor Lorosae dan didampingi oleh sang Presidennya : Xanana Gusmao.

Kenapa ?  Semata-mata foto yang mengabadikan kedua presiden itu syarat akan makna sejarah yang mendalam lagi universal. Betapa tidak. Peristiwa yang terungkap di Dili itu bukan hanya bersifat lokal atau nasional belaka, melainkan global. Berkat adanya sarana komunikasi dan informasi yang canggih : berupa tayangan televisi yang meliput upacara pemakaman jenazah Paus Yohanes Paulus II di Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Pemakaman paus itu dilakukan setelah misa doa bergerak selama 3 jam yang dihadiri sekitar 300.000 pelayat di Lapangan Santo Petrus, termasuk 200 pemimpin dunia dan tamu penting, dan disaksikan oleh semilyar pemisra televisi di seluruh dunia – demikian tulis Karebosi.com 8 April 2005.

Justeru di antara semilyar pemisra televisi itu adalah Presiden Xanana dan Presiden SBY. Yang keduanya sepakat untuk meniadakan acara lain kecuali mengambil bagian sebagai penyaksi evenement bertema kasih sayang dan perdamaian dunia itu.

Foto bersama SBY dan Xanana sungguh merupakan pertanda persahabatan dan saling pengertian serta saling harga-menghargai yang amat signifikan. Suatu bukti ke-negarawan-an sang tokoh yang berjiwa besar.

Betapa kontras suasananya dengan yang telah terjadi di masa lalu. Jika disimak sejarah Nusantara di mana masing-masing berada dalam posisi saling berseteru. Lebih gamblang lagi kekontrasannya di bidang kemeliteran. Yang satu sebagai bagian dari ABRI, sedang yang lainnya sebagai komandan perjuta yang oleh Jakarta dinyatakan sebagai pasukan GPK. Gerombolan Pengacau Keamanan. Yang berada di luar hukum alias kriminal.

Bukan sembarang komandan gerombolan pengacau keamanan yang berstatus kriminal, namun lebih dari itu. Dalam maraknya Perang Dingin sang komandan pun mendapat kenaikan pangkat dengan julukan „marxis“ atau „komunis“ pula.  Makanya layak digempur-binasakan. Seperti terbuktikan seminggu setelah kunjungan Kissinger ke Jakarta Agustus 1975. Pasukan ABRI menggempur seraya menduduki Timor Timur. Selama 20 tahun. Dengan korban jiwa amat tinggi berjumlah 200.000 korban untuk penduduk ketika itu yang hanya 700.000 jiwa!

Jika selama masa pendudukan militer Indonesia pers Orde Baru telah mengkriminilkan Xanana dan pasukan serta gerakan kemerdekaannya, namun citranya di mancanegara, terutama sekali di Eropa amatlah berbeda. Bahkan, koran prestisius macam Le Monde (Paris, perancis) pun mengutarakan biodatanya yang positif. Begitu juga beragam media lainnya. Hingga dia terkenal sebagai pejuang mulai dari sebagai guru sekolah, jurnalis, pelukis, penyair dan jurupotret yang menjadi tokoh politik dan komandan gerilyawan gagah berani.

Gelindingan roda sejarah akhirnya memang memihak kepada Xanana. Angin perubahan dengan adanya gerakan reformasi Mei 1998 telah melengserkan Bapak Pembangunan Orde Baru. Sedangkan Timor Timur berubah status setelah berlangsungnya referandum. Dan sebagai hasil pemilu pertama yang demokratis di Timor Timur, Xanana terpilih sebagai Presiden.

„Dipandang dari Eropah, Timor Lorosae di ujung bulan Agustus 2001 itu telah menjadi salah satu bintang multi media massa internasional. Dengan fokus mengenai berlangsungnya pemilu pertama yang demokratis untuk dewan konstituante“. Demikian antara lain impresi dari Eropah yang saya utarakan di Mandiri.com (31/08/2001).

Selanjutnya saya garisbawahi makna kesuksesan pemilu itu sebagai hal-ihwal positif bukan saja bagi kawasan kecil atau yang lokal itu semata, melainkan juga kawasan dunia sebagai keseluruhan. Karena ternyata upaya bantuan dari berbagai institusi lokal, nasional maupun internasional – baik dari kalangan LSM maupun yang resmi, yang terutama sekali dari PBB dengan UNTAET-nya di lapangan – telah secara gemilang mewujudkan solidaritas humanis. Sehingga Timor Lorosae, baik sebagai negeri mupun rakyat telah hidup kembali dari reruntuhan, bara dan abu. Bagaikan bird of fire alias burung fenik.

Beberapa bulan kemudian, di musim semi, Bird of fire alias burung fenik itu benar-benar menjelma. Pada tanggal 20 Mei 2002 di Dili berlangsung upacara resmi Proklamasi Kemerdekaan Republik Demokratik Timor Lorosae seiring pelantikan Xanana Gusmao sebagai Presiden pertamanya.

„Sungguh ini merupakan peristiwa besar sebagai pertanda universal dalam sejarah peradaban manusia,“ tulis saya antara lain di Mandiri.com (20/05/2002).

Rasa gembira campur bangga memang tak terperikan, jika diingat betapa besarnya pengorbanan pejuang dan rakyat Timor Timur untuk mencapai kemerdekaan. Baik perjuangan yang utama di dalam negeri maupun perjuangan yang melengkapinya di luar negeri – dalam menata-bina solidaritas maupun pembentukan opini dengan pencarian-penyebaran informasi yang benar serta pengobaran semangat yang kuat. Seperti multi-aktivitas yang diprakarsai oleh Ramos Horta dan para intelektual serta aktivis lainnya di mancanegara.

Dalam rangkai-kaitan semua itu, tidak terlupakan penyebaran lagu-lagu ciptaan komponis rakyat Maubere dan begitu juga karya-karya puisi beberapa penyair, seperti Kesabere dan Xanana sendiri. Seperti sajaknya yang berjudul „Wanita Timor Timur“ kami siarkan lewat Majalah Kreasi nomor 19 tahun 1994. Tak lama setelah sang Komandan Gerilyawan itu dijatuhi hukuman seumur hidup dan meringkuk di penjara Jakarta.

Begitulah pertandanya perubahan zaman. Sang pesakitan-politik tapi yang kemudian namanya disejajarkan dengan pejuang kemerdekaan Afrika Selatan Nelson Mandela itu, pada tanggal 20 Mei 2002 dilantik sebagai Presiden. Dalam upacara resmi yang  dihadiri oleh 15 kepala negara dan pemerintahan, termasuk Presiden Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PBB Kofi Annan.

„Salam buat bangsa Indonesia,“ demikian sebaris kata amat bermakna, dalam pidatonya yang menggunakan bahasa Indonesia, setelah bahasa Inggris. Seraya menyampaikan rasa terimakasih kepada „Presiden Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri“.

„Kedua rakyat kita dapat memberikan sumbangan kepada pengembangan dunia yang lebih damai dan untuk itu perkenankan saya memberi penghormatan kepada semua warga negara Indonesia, baik perorangan maupun kelompok yang telah memebrikan sumbangan baik di masa lalu maupun masa kini kepada seluruh prosesus di Timor Lorosae yang memuncak hari ini dalam peristiwa ini,“ tegas Xanana sang Presiden. Pidato kenegaraan pertama yang sudah membawakan kesejukan yang sarat akan semangat  rekonsiliasi.

Sudah tentu, baik pidato Presiden Xanana maupun kehadiran Presiden Megawati pada evenement internasional yang diliput pers mondial itu merupakan peristiwa bersejarah yang istimewa sekali.

Akan tetapi, yang menggelitik hati dan pikiran saya hingga terdorong untuk menyusun impresi kali ini, tak lain tak bukan adalah foto pelengkap berita. Seperti yang dilansir Kedaulatan Rakyat 17 hari sebelumnya. Yakni justeru foto bersama Xanana dan SBY. Yang pertama sebagai Presiden RD Timor Lorosae dan sebagai tetamu, sedangkan yang kedua sebagai tuanrumah.

Kedatangan Xanana itu setelah secara langsung menyampaikan undangan kepada Presiden Megawati untuk menghadiri upacara Proklamasi Kemerdekaan RD Timor Lorosae. SBY menyambutnya dengan terlebih dahulu mengucapkan selamat atas terpilihnya Xanana sebagai Presiden, lalu menegaskan: „Sebagai kawan, kami yakin anda akan mampu memimpin Timor Timur menuju masa depan yang lebih cerah, demokrasi yang stabil serta bangsa yang makmur.“

Foto bersama Xanana-SBY musim semi tahun 2002 itu ketika yang pertama sebagai Presiden dan yang kedua sebagai Menko Polkam. Sedangkan foto bersama tahun 2005 ini, kedua-duanya sebagai Presiden!

Sungguh luarbiasa dinamika gelindingan roda sejarah itu! Namun tetap saja ada perbedaan nuansa. Jika SBY mantan Jenderal Presiden, maka Xanana Presiden intelektual sekaligus seniman! ***

Catatan: Naskah „Foto Presiden Xanana Intelektual“ disiar pertama kali Harian Batam Pos, Kolom: Impresi dari Eropa, edisi cetak & online 28.05.2005. Disiar ulang beberapa media elektronika, antara lain Swara.Tv. Tanggal 30 Maret 2007 disiar ABE-Kreasi Multiply Site: http://16j42.multiply.com/journal/item/230/
Facebook: 8 Januari 2010.

 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.