Akhirnya Sampai Di Sini
Oleh A.Kohar Ibrahim    Jumat, 29 Mei 2009 14:36    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Akhirnya Sampai Di Sini

HAH

SPBB (16)
Oleh : A.Kohar Ibrahim

SAMPAI di sini saya akhiri rangkaian bloknota yang berawal dari Gado-Gado Betawi : Sekitar Prahara Budak Budaya. Teriring irama lagu Gambang Kromong : Jali-Jali. Saya ulang bilang, bahwasanya serangkai naskah ini adalah berkat ketergelitikan saya atas perbincangan sepintas kilas di milis Apsas – Apresiasi Sastra Yahoogroups.com. Gara-gara postingan Moch Satrio Welang, Rabu 1 Oktober 2008 : « Kenapa sastrawan Indonesia belum ada yang pernah dapat Nobel ». Disambut oleh postingan Hudan Hidayat : « …Bagus nih persoalan yang kau bawakan. Posting ya komen mu… pasti banyak yang ikut komen kelak. »

Sambut menyambut postingan tidak banyak. Tapi ada sambutan yang nampak bersemangat dengan mengutarakan sederetan soal yang menjadi persoalan, yakni yang ditimbulkan Ikranagara dan Hasan Aspahani.  Kongkretnya : soal persoalan yang terfokus pada Pramoedya Ananta Toer – apressiasi atas aktivitas-kreativitasnya, nominasi Nobel dan anugerah Magsaysay Award yang kontroversial.

Pasalnya memang bersangkutan dengan sejarah. Sejarah baik secara umum maupun yang secara khusus berkaitan dengan bidang budaya, seni dan sastra. Sejarah yang memang versi resminya adalah hasil rekayasa penguasa OrBa. Itulah yang terutama menggelitik hati dan pikiran saya, lantaran saya menghendaki akan keutuhan sejarah teriring ditegakkannya kebenaran dan keadilan.

Nimbrungnya saya dalam perbincangan ala Apsas itu pertanda kepedulian saya. Ikut menguatkan pertanyaan ke alamat Ikra dengan postingannya yang menurut kesan saya kental dengan pandangan sementara budayawan dan sastrawan yang berpanglimakan garis politik-ideologi anti-komunis Manikebu/OrBa. Istimewa sekali perihal gerakan kebudayaan di zaman OrLa. Untuk itu, Ikranagara bilang : « Anda juga ingin tahu tetang zaman itu ? » Seraya menganjurkan untuk menyimak dokumentasi baik yang terdapat di Pusat Dokumentasi HB Jassin maupun miliknya sendiri. Dengan antara lain menonjolkan buku selain Prahara Budaya susunan DS Mulyanto dan Taufiq Ismail, juga buku « yang ditulis oleh seorang sarjana Malaysia jebolan UI ».

Seperti pembaca ketahui, saya memang belum kesempatan melacak PD HB Jassin pun belum memanfaatkan kesediaan perpustakaan Ikranagara, melainkan hanya menggunakan dokumentasi atau bahan-bahan yang ada pada saya sendiri. Terutama sekali dari sejumlah hasil tebitan yang kami kelola, yakni berupa majalah-majalah Kreasi dan Arena. Untuk sementara cukuplah kiranya sedemikian itu. Sekedar memenuhi harapan Ikranagara untuk menuliskan pandangan saya – pandangan kami – yang memang beseberangan dengan pandangan Ikranagara. Termasuk penilaian kami atas Prahara Budaya dalam zaman OrLa yang sebenarnya hanyalah Pekanraya Budaya. Dalam mana para budak atau bidak atau bujang atau anak alias pelakon atau pekerja kebudayaan, kesenian dan kesusastraan kiprah dengan gagah gairah bahkan dengan kecekatan jurus sengat-sengit dalam perdebatan atau polemik. Di samping adanya kegegap-gempitaan perjuangan di bidang politik anti-nekolim di seluruh nusantara.

Akan halnya buku lainnya yang dijajakan Ikra sebagai karya « sarjana Malaysia jebolan UI » itu tak lain adalah buku berjudul : Pertumbuhan Perkembangan dan Kejatuhan LEKRA di Indonesia oleh Yahya Ismail. Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia, Kuala Lumpur 1972. Tak mengherankan jika dibangga-banggakan Ikra, lantaran sang sarjana itu adalah hasil bimbingan HB Jassin. Dan memang cukup menggelitik. Apa pula pembaca antara lain bisa menyimak isinya dengan gambaran apa-siapa Manikebu dan KKPI (Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia) yang dibeking militer. Apa-siapanya yang pura-pura anti-politik namun dalam tindakan ber-panglima-kan politik-ideologi anti-komunis para jenderal kanan Indonesia. Saya sitir bagian-bagian dari buku karya Yahya Ismail tersebut, antara lain seperti berikut ini.

« Bila KKPI diadakan dari 1 sampai dengan 7 Maret 1964 digedung Lembaga Administrasi Negara, Jalan Veteran, Jakarta, sponsor-sponsornya adalah terdiri dari BMKN, OPI, HSBI dan Lekkrindo. Tema konferensi tersebut ialah « Peranan Pengarang Indonesia ». Tema konferensi ini pun jelas membuktikan bahwa bukan soal kultural saja yang dipentingkan, tetapi juga tujuan-tujuan politik untuk mengekang ataupun menolak gagasan-gagasan politik kiri diwaktu itu. » (hlm 82).

« Para undangan yang hadir datangnya dari berbagai daerah kepulauan Indonesia, dari Aceh hingga Irian Barat. Melihat dari jumlah delegasi-delegasi yang datang dari jauh orang akan bertanya-tanya bagaimanakah peserta-peserta dari Irian Barat, Aceh, Sulawesi dan sebagainya bisa menghadiri KKPI, karena ongkos perjalanan sangat besar, dan situasi ekonomi negara pincang. Ini tidak mengherankan karena Angkatan Darat Republik Indonesia adalah di belakang KKPI. Sebagai suatu wadah dari mereka yang non-komunis, maka kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh pihak Angkatan Darat Republik Indonesia untuk menunjukkan kekuatan politik diwaktu itu. » (hlm 82-83).

« Setiap kegiatan dari KKPI mendapat perhatian istimewa dari Jenderal Abdul Haris Nasution, dan lapuran-lapuran kegiatan dikirimkan kepadanya dari penyelenggara konferensi tersebut. Karena adanya kerjasama dengan Angkatan Darat Republik Indonesia, maka berbagai fasilitas diberikan kepada KKPI dan peserta-pesertanya. » (hlm 83).
Pada halaman yang sama tertera catatan Yahya Ismail, bahwasanya fakta itu diperolehnya dari : « Wawancara dengan H.B.Jassin dalam bulan Februari 1968. Juga surat-surat yang dikirimkan novelis Bokor Hutasuhut, salah seorang pencetus Manifes Kebudayaan (Manikebu, pen), kepada Jenderal Abdul Haris Nasution menunjukkan kerjasama antara kedua belah pihak. Salinan surat-surat itu ada dalam simpanan H.B.Jassin. »

Selanjutnya, mengingat situasi dimana sikap Presiden Sukarno yang condong pada politik kiri ala PKI, « maka dengan demikian Angkatan Darat harus berhati-hati, supaya tidak timbul reaksi yang berbahaya bagi panglima-panglima Angkatan Darat yang anti-komunis. Tugas yang berat ini dipikul oleh kaum cendekiawan, pengarang-pengarang dan seniman-seniman Indonesia dari golongan anti-komunis dan agama. Pihak sastrawan dan cendekiawan berani karena mengetahui bahwa mereka juga punya « backing » yaitu Angkatan Darat Republik Indonesia. » (hlm 83-84).

Jika diingat kedudukan penting sastrawan Nugroho Notosusanto yang berdinas di kelembagaan militer, pun koseptor Manikbeu Wiratmo Sukito, maka uraian sarjana Yahya Ismail itu cukup signifikan adanya. Maka, dengan demikian juga bisalah diketahui akar sosial dan akar sejarah manifestasi aksi arogansi penguasa militer dan mereka yang berada dalam kantong kekuasaannya -- baik sebelum dan apalagi setelah berdirinya OrBa. Seperti antara lain gambaran karya tulis maupun visual yang tercantum dalam buku Taufiq Ismail berjudul : Tirani dan Benteng. Selain ke-petentengan-nya dalam demonstrasi kekuatan ngintilin kendaraan lapis-waja militeris, juga mendemonstrasikan karya puisi sloganistis dan ber-panglima-kan politik anti-komunis yang nggak ketulungan. Lebih memalukan lagi, juga membuktikan diri sebagai sarana propaganda hitam OrBa, berupa dusta dan fitnah untuk mengobarkan pembantaian massal. Kongkretnya, halaman 56 buku itu mempampangkan foto « penggalian dan pengangkatan jenazah » di Lubang Buaya pada tanggal 4 Oktober 1965. Foto yang dipropagandakan OrBa sebagai bukti kebiadaban kaum wanita komunis yang amoral dan atheis.

Dusta dan fitnah teriring arogansi pun diutarakan dalam buku tersebut, dengan menunjukkan suatu appel besar yang berlangsung di halaman kampus Fakultas Kedokteran UI, pada tanggal 10 Januari 1966. «Dimana : « Komandan Sarwo Edhie, idola masyarakat yang sukses melumpuhkan gerakan PKI, diundang KAMI dan berbicara di depan massa : « Tahun 1965 adalah tahun fitnahnya PKI. Semua yang tak setuju dituduh komunistofobi, setan dan kapitalis-birokrat… Bertahun tahun mereka mempersiapkan rencana kup, tapi berkat kerjasama rakyat dan ABRI, dalam waktu singkat mereka ditumpas sama sekali. » (hlm XIX).

Begitulah, antara lain, bukti gamblang manifestasi aksi yang disebutkan Pramoedya sebagai tabir asap dari kaum Manikebuis/Orbais dengan mentalitas humanisme universilnya atau kemanusiaannya yang munafik ! Betapa tidak : selagi mereka mendemonstrasikan arogansi kekuasaan sembari teriak-teriak belasungkawa atas seberapa korban tembakan, namun membutatuli atas terjadinya pembantaian massal ratusan ribu bahkan jutaan jiwa bangsa sendiri yang dilakukan oleh para algojo pimpinan militer. Dan « kemenangan » tanpa peperangan kecuali pembunuhan terhadap kaum tanpa dosa tanpa senjata pun mereka bangga-banggakan layaknya tindakan kepahlawanan. Kebiadaban malah dijadikan kebanggaan oleh para pendiri pendukung kekuasaan zalim, termasuk oleh sementara kalangan kebudayaan, pengarang dan penyair !

Begitulah tanggapanku atas peristiwa yang terjadi dalam periode OrLa maupun OrBa dan sesudahnya. Baik terhadap sosok-sosok macam Taufiq Ismail maupun Ikranagara. Akan halnya terhadap seorang penulis-jurnalis sekaligus juga penyair dari generasi lebih muda dariku macam Hasan Aspahani, yah iyalah – begitu jugalah intinya penjelasan yang bisa aku utarakan. Penjelasan baik yang berkenaan dengan sajak penyair Mawie Ananta Jonie maupun surat politik Iwan Simatupang itu.

Khususnya kepada Hasan Aspahani, ingin aku utarakan bahwanya uraianku berupa serangkai naskah SPBB ini, sesungguhnyalah hanya sebagai pertimbangan dari diri pribadiku belaka. Dalam rangka berbagi. Artinya bukan opini harga-mati, oleh karenanya bisa diperdebatkan adanya. Seperti halnya juga sekian banyak naskahku lainnya yang berkaitan dengan sejarah di berbagai media, termasuk di Harian Sijori Pos yang kemudian menjadi Harian Batam Pos. Sejak tahun 2002. Salah sebuah terbitan lokal, memang. Seperti halnya terbitan lokal lainnya macam Minggu Pagi dan Kedaulatan Rakyat Yogyakarta yang pernah menyiarkan seberkas tulisanku..

Sesungguhnyalah, bagiku menulis itu – apakah prosa ataukah puisi ataupun yang bersifat jurnalistis --  adalah merupakan panggilan, merupakan ibadah, tak peduli kapan dan di mana. Yang terpenting, seperti kata penyair : hadir dan mengalir. Yang terpenting tujuanku kesampaian : terutama sekali kepada pembaca yang berkenan dan membutuhkan pencerahan. Dalam rangka memperjuangkan kebebas-merdekaan, membela kebenaran dan keadilan serta kehidupan manusia yang manusiawi.

Khususnya kepada Hasan Aspahani, yang saya kenal sejak sekian lama – semenjak saya bisa menyimak media massa elektronik atau menggunakan internet – meskipun kita bisa saja memiliki keberbedaan pendapat, namun saya tetap menghargainya sebagai sesama penulis. Seperti terbuktikan adanya tulisan saya yang pernah disiar Harian Batam Pos, ruang Impresi Dari Eropa, dalam tahun 2005. Sebagai pelengkap, saya turunkan berikut ini.

*

HAH
Hasan Aspahani Penyair Sejuta Puisi

Mendengar suara cakap-cakap ku via ponsel yang bernada riang gembira: HA ha ha… Lisya heran seraya  bertanya: Kenapa harini, kok begitu gembira nampaknya?

Iya gembira, lantaran  HA itu. Ha ha ha ! jelasku. Sekarang aku baru temukan apa yang kucari-cari belakangan ini. Ya foto HA yang kumisan itu, ya bini dan dua buah hati mereka: putera dan puterinya yang cakep-cakep itu pula. Maka dari itu akhirnya aku temukan judul naskah kali ini.

« Gembira lantaran menemukan judul tulisan? »

« Lha, iya. Ha ha ha… »

« Lebih jelasnya? tanya Lisya penasaran. »

« HA Penyair Sejuta Puisi…itulah. »

Oh, Hasan Aspahani ? Ujar Lisya. Kini dia yang ketawa kecil yang tentunya berakhir dengan senyum yang mudah tersungging. Pasalnya sederhana tapi bermakna. Bahwa aku mengkonfirmasi kepercayaanku akan apa yang pernah diinfokannya, bahwa sang Penyair Sejuta Puisi itu memang orangnya baik dan cerdas berwawasan luas. Sebagai kebalikan dari golongan orang yang memiliki pandang cekak  bagaikan “kodok kecemplung di dalam sumur”.

Sisi-sisi kebaikannya itu sebenarnya sudah aku simak sejak mengenalnya secara tak langsung sekian tahun lalu. Yakni bermula dari menyimak hasil kreasinya yang tersebar di beberapa media massa cetak maupun elektronika, istimewa sekali di Cybersastra dan situs yang juga dijadikan judul tulisan ini: Penyair Sejuta ¨Puisi. Dan apalagi setelah kesempatan jumpa langsung dalam bulan Juni lalu,  di ruang gedung Batam Pos yang baru lagi mentereng menjulang tinggi.

Di ruang redaksional yang besar itu  memang suasananya sangat kontras dengan yang lama di zaman asal muasal harian itu bernama Sijori Pos,  kata Lisya. Salah seorang redaktur Seniornya. Yang aku sambut dengan impresi: Wah, seperti ruang redaksional Washinghton Pos saja!

Impresiku itu aku ulang ucap baik ketika ketemu Rida K Liamsi sang big bos maupun ketika ngobrol dengan Ade dan Hasan serta Lisya. Tentu saja semuanya gembira. Aku pun turut gembira dan bangga. Pasalnya, perasaan ini timbul bukan hanya karena menyaksikan bukti adanya kemajuan di alam kemerdekaan pers yang tumbuh berkembang berkat angin segar Reformasi 1998, tapi juga lantaran menyaksikan adanya para jurnalis yang juga penulis generasi lebih muda dariku yang berbakat. Seperti mereka yang lagi menemaniku ngobrol itu. Mereka yang mau dan mampu memanfaatkan pengalaman tugas kewartawanannya untuk seiring dengan itu mengembangkan kreativitas tulis-menulisnya. Karena mereka terus menerus mengikuti perkembangan situasi dan kondisi kehidupan masyarakat, sering melakukan kunjungan dan pelacakan serta bertemu dengan ragam macam nara sumber, bahan referensi atau bahan bacaan lainnya. Dengan begitu, maka dari hari ke hari semakin bertambah banyak dan kayalah simpanan pengetahuannya.

Maka, dengan begitu juga, akan lebih mudahlah dalam melakukan ibadah – apakah itu dalam menjalankan misi sebagai jurnalis apakah sebagai penulis umumnya, khususnya sebagai penyair. Seperti contohnya Hasan Aspahani sebagai sang HA Penyair Sejuta Puisi itu lah.

Jurnalis-penulis sekaligus penyair penduduk « Negara Kata » (Riau) asal kelahiran Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara Kaltim 9 Maret 1971 ini sudah jatuh cinta pada puisi sejak masa remaja. Begitu juga keterlibatannya di dunia media massa dimulai sejak masa muda hingga akhirnya kini berkedudukan sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Batam Pos.

Maka dengan mengetahui posisinya demikian itulah kita jadi lebih mudah menyelam-nikmati hasil karya seni puisi Hasan Aspahani yang bervariasi, dalam kreativitasnya yang mencerminkan semangat zaman. Dengan secara piawai menggunakan kekayaan perbendaharaan kata untuk melukiskan warna warni dan ragam irama kehidupan dengan segala nuansanya. Dari soal kehidupan sehari-hari keintim-mesraan keluarga sampai pada skala luas masyarakat manusia dengan segala kedinamikaan kehidupannya baik dalam masa damai maupun peperangan yang menghancurkan.

Variasi hasil kreasi HA itu bisa dalam bentuk berkas-berkas sajak bebas sampai pada yang konvensional macam gurindam. Seperti antara lain berjudul Empat Gurindam Untuk Siti dan Sebelas Gurindam (Cybersastra September 2002). Sedangkan karya puitisnya yang bernuansa jurnalis bisa disimak yang berjudul On the Breaking News dan Reportase dari Teluk (Cybersastra Maret 2003).

Puisi adalah aliran suara hati nurani yang diwujud-lukiskan dengan baris baris kata bernada irama puitis berkat endapan kekayaan pengalaman atau pengamatan serta daya imajinasi sang penyair.

Dalam artian itulah aku dapati dan nikmati hasil karya Hasan Aspahani sebagai penyair yang amat mengesankan. Bahkan, dalam hal penguasaan sekaligus pemanfaatan bahasa, teristimewa sekali perbendaharaan kata-katanya sungguhlah luarbiasa. Seperti antara lain bisa disimak dalam sajak-sajaknya berjudul “Rimba Kata Samudera Kata”, “Tentang Kata, Katamu, Kataku” dan yang berjudul “Sebelas Gurindam” yang selengkapnya sebagai berikut:

ketika kau tulis sajak muram / ketika itu pula mata kata memejam

pabila tak kau tulis sebait pun sajak / ada kata yang diam-diam hendak berteriak

saat kau lahirkan sajak sebait / sejak itu kata mengenai jerit sakit

walau tak datang sajak yang kau undang / jangan kau usir kata asing yang datang

kau sembunyikan di mana sajakmu? / selalu ada kata yang rindu memaksa bertemu

ada sajak yang kautuang ke gelas / siapakah yang mereguk kata hingga tandas?

jika kau paksa juga menulis sajak / kata memang tiba, tapi makna jauh bertolak

jangan ajari sajakmu mengucap dusta / sebab mulutmu akan dibungkam kata-kata

biarkan sajakmu dicaci dinista / karena maki cuma kata yang cemburu buta

di mana kau simpan sajak terbaik? / di hati, lalu biarkan kata mengucap tabik

pernahkah sajak meminta lebih darinya? / kata berkata: ah aku cuma kata…


Demikian sajak yang digubah untuk komunitas Cybersastra  dan termuat di galeri puisi situs tersebut 3 September 2002. Salah satu situs dari berbagai situs yang menyimpan-siarkan hasil karya Hasan Aspahani dengan situs Sejuta Puisi-nya barang tentu.

Maka kepada pembaca yang berminat silakan melacak-nimatinya dengan bebas merdeka. Selaras tujuan sang penyair sendiri, agar supaya lebih  banyak lagi pembaca dan penulis  puisi adanya. Dalam hal ini tiada banyak persoalannya.

« Mau jadi penyair?» tanyanya bagi yang berminat seperti tertera di galeri esei Cybersastra 4 April 2002. « Ya berkaryalah. Memangnya siapa yang memberi status penyair kepada Raja Ali Haji ? Kepada Amir Hamzah ? Kepada Sutardji Calzoum Bachri ? Atau kepada Hasan Aspahani ? Karyalah yang menjadikan seseorang itu penyair atau bukan. »

Setuju sekali. Penentuan utama dan terutamanya memang perbuatan, ibadah, hasil karya, bukan sebutan atau omongan. Dan sebagai jurnalis, penulis maupun penyair, HA telah dan sedang terus melakukan ibadahnya.

Aku tambah gembira ketika mendengar lanjutan suara Lisya Anggraini yang masih  penasaran : « Ada apa lagi yang membuatmu gembira, Kohar ? »

« Sifat kejantanannya yang penuh tanggung-jawab dan rasa kasih sayang terhadap bini dan putera-puterinya, » jawabku meyakinkan dengan penegasan betapa aku trenyuh menyimak foto mereka di halaman situs sang Penyair Sejuta Puisi yang dilengkapi baris kata-kata mesranya : « Si pemicu inspirasi : aku ada di dalam mereka. »

« Oh ya… » desis Lisya. Tentu senantiasa teriring senyum yang memahami baris baris puitisitu. Baik yang tersurat maupun yang tersirat. Seraya mengingat hakekat maknanya seperti yang pernah didengarnya dari penulis yang lain. Yang dikenalnya. Yang juga faham akan makna ibadah dalam artian luas dan mendalam.
*
Demikianlah naskah yang saya susun berkenaan dengan penyair HAH alias Hasan Aspahani yang diturunkan di rubrik Impresi Dari Eropa (6) Harian Batam Pos tahun 2005. Naskah yang kemudian tercantum dalam buku kumpulan tulisan bersama Lisya & Kohar : Kepri Pulau Cinta Kasih, penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2006.
Dewasa ini, di bidang kewartawanan,  Hasan Aspahani berkedudukan sebagai Pimred Harian Batam Pos. Sedangkan sebagai penyair, buku kumpulan puisinya berjudul Orgasmaya terbitan Yayasan Sagang Pekanbaru 2007 termasuk daftar 10 Buku hasil seleksi pertama (longlist) Khatulistiwa Literary Award 2008, disamping : Saut Situmorang, Oka Rusmini, Afrizal Malna, Sutardji Calzoum Bachri, M. Aan Mansyur, Binhad Nurrohmat, Nirwan Dewanto, Wendoko, Maulana Achmad, Inez Diakara dan Dedy T. Riyadi.
Akhirul kalam, dari Beranda Betawi, terbayang aku panggung lenong dengan para bujang, budak atau bidak atau pemainnya yang menarik hati dan pikiran seperti biasanya. Lantas telingaku menangkap gema irama Gambang Kromong mengiringi lagu Jali-Jali yang dibawakan oleh Lilis Suryani :
ini dia si jali-jali
lagunya enak lagunya enak merdu sekali
capek sedikit tidak perduli sayang
asalkan tuan asalkan tuan senang di hati

palinglah enak si mangga udang
hei sayang disayang pohonnya tinggi buahnya jarang
palinglah enak si orang bujang sayang
kemana pergi kemana pergi tiada yang m’larang

disana gunung disini gunung
hei sayang disayang ditengah tengah ditengah tengah kembang melati
disana bingung disini bingung sayang
samalah sama samalah sama menaruh hati

jalilah jali dari cikini sayang
jali-jali dari cikini jalilah jali sampai disini.

Iya. Iyalah bloknota Sekitar Prahara Budak Budaya berakhir sampai di sini.  Kepada pembaca yang berkenan saya ucapkan banyak terimakasih. *** (15.12.2008)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Vnet

Iklan Kampanye

Advertising

Top Kontributor

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.