Mawie Ananta Jonie Penyair Yang Dipersoalkan
Oleh A.Kohar Ibrahim    Minggu, 24 Mei 2009 09:36    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
A.Kohar Ibrahim:

Mawie Ananta Jonie Penyair Yang Dipersoalkan

SPBB (15)

*

Sekelumit Kenangan

-- buat Pram

pertama kita berjumpa
adalah di dalam kerja sastra
engkau membuat catatan pena
pada ‘sebuah malam corat coret’ di Jakarta

aku di sini engkau di sana
menyusuri ciliwung yang kumuh dan busuk
di antara angin membara ibu kota
bila sampai kita tertunduk di hayam wuruk

di laut
mencigap bulan kuku kuda
di sini kupungut
pesanmu dalam kata dalam sastra

kasih dan cinta
sama sama menyala
jerih dan karya
sumbu ‘lentera’

1980
(Mawie Ananta Jonie)


*


KIRA saya, sementara pembaca tidaklah mudah memahami dengan jelas beberapa baris kata dari sajak Sekelumit Kenangan Mawie Ananta Jonie tersebut di atas. Kecuali mereka yang tahu sedikit banyaknya sejarah gerakan kebudayaan di zaman Sukarno. Dengan salah sebuah media massanya yang kondang, yakni koran Bintang Timur yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk, pinggir kali Ciliwung, Jakarta. Koran yang menjadi kondang juga lantaran adanya ruang kebudayaan bernama Lentera yang dikelola oleh Pramoedya Ananta Toer. Ruang kebudayaan avant-garde yang menggali, mengungkap dan menyiarkan sastrawan avant-garde zaman Kebangkitan Nasional sampai pada menampung-siarkan para penulis dan penyair muda kotemporer macam Mawie Ananta Jonie.

Tetapi saya cepat mengerti sembari senyum lantaran turut terpaut kenangan periode tahun lima-enam-puluhan – masa semasa Mawie sebagai penulis muda di koran Bintang Tmur dan Bintang Minggu. Maka tak ayal lagi sajak Sekelumit Kenangan itu saya pilih untuk mengedit kumpulan sajak PUISI – Kreasi N° 11 Th 1992.

Sekelumit kenangan tersebut sesungguhnyalah menggemakan kenangan yang bersejarah dan tak terlupakan bahkan takkan terhapuskan dalam lembaran sejarah kebudayaan, istimewa sekali sejarah kesusastraan Indonesia. Tidak hanya lantaran sang pengelolanya yang kemudian terkenal sebagai maestro: Pramoedya Ananta Toer. Tetapi juga sekian banyak yang terlibat dalam aktivitas-kreativitas lainnya, yang salah seorangnya adalah Mawie Ananta Jonie. Terbukti, salah sebuah hasil karyanya berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah disangkut-pautkan dalam perdebatan politik-ideologi Manikebu/OrBa dan yang dijadikan pihak lawan mereka: Pihak Pramoedya-Lekra dan kaum kiri lainnya. Sejak di zaman berjayanya rezim OrBa sampai sesudahnya, bahkan hingga dewasa ini. Yang salah satu pertandanya iyalah hadirnya serangkaian bloknota yang saya susun dengan judul Sekitar Prahara Budak Budaya ini.

Apa yang saya utarakan tak lain dimaksudkan sebagai sumbangan dengan harapan bisalah dijadikan salah sebuah bahan pertimbangan adanya. Sumbangan dari salah seorang saksi sekaligus pelaku dalam gerakan kebudayaan, khususnya, seni dan sastra Indonesia. Kesaksian secara umum sekaligus yang secara khusus berkaitan dengan Pramoedya dan Lekra serta Mawie. Mawie yang saya kenal sejak masa muda. Meski dalam periode tertentu berlainan tempat pemukiman. Namun dalam kaitan aktivitas-kreativitas tulis menulis, lumayan jugalah saya mengenalnya. Terutama sekali dalam periode pengelolaan terbitan sederhana kami yang tergolong pers alternatip: 1989-1999. Khususnya penerbitan majalah-majalah Kreasi dan Arena. Sejak awal mulanya Mawie adalah salah seorang pendukung sekaligus penyumbang yang kongkrit dan konsisten. Dan yang terpenting adalah penerbitan kumpulan puisinya yang pertama berjudul Nyanyian Persahabatan & Sebuah Surat Musim Bunga, Kreasi N° 18 Th 1994. Disusul kupuisi yang kedua berjudul Janji Pada Yang Mati & Berontak, Kreasi N° 36 Th 1998. Selain itu, kreasi puisinya turut melengkapi kumpulan-kumpulan sajak lainnya, seperti Yang Tertindas Yang Melawan Tirani (I), Kreasi N° 28 Th 1997 dan Yang Tertindas Yang Melawan Tirani (II), Kreasi N° 39 Th 1998.

Sebagai salah seorang penulis eksil, selain prosa terutama sekali puisi, Mawie ternyata yang paling produktip. Pembaca kiranya bisa menyimaknya dari Biodatanya, dilengkapi 5 sajak yang tercantum dalam buku kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Cerita Untuk Nancy, penerbit Ultimus & Lembaga Sastra Pembebasan, Editor: Heri Latief, 2008.

*

Biodata
Mawie Ananta Jonie

MAWIE ANANTA JONIE, atau MAWI, lahir di Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat, Indonesia, 5 Mei 1940.
Mulai menulis puisi pertama tahun 1956 (?) ketika pecahnya perang di Mesir dengan Inggris soal Terusan Suez. Sajak “Sinai” dimuat oleh Harian Penerangan terbit di Padang. Waktu itu baru duduk di kelas 2 SGB (Sekolah Guru B) 4 tahun yang bila tamat akan jadi guru di Sekolah Rakyat (SD). Sekolah ini ditempuhnya di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman dan Kotapraja Padang Panjang. Lama kemudian tidak menulis atau menulis tapi sajak-sajaknya tidak pernah dimuat lagi. Lalu mengalihkan menulis kata-kata berharga untuk ruangan kata-kata mutiara di dalam ruangan koran yang sama. Ada satu-dua kali dimuat. Setelah tamat dari SGB, tidak mengajar menjadi guru di SD tetapi melanjutkan ke SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Djasmani) 4 tahun di Padang yang bila selesai akan menjadi guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Tahun 1958 masuk SGPD di kota Padang, sesekali menulis puisi di dalam Ruangan Kebudayaan koran Suara Persatuan (dulu koran Harian Penerangan) dengan sajaknya yang pertama berjudul “Tekad”. Dan mulai saat itu, Mawi memakai nama “Mawi Ananta Djoni”. Selama 4 tahun di Padang, banyak menulis selain sajak-sajak, cerita pendek, logat Minang, laporan perjalanan, laporan olahraga, dll. Di sini dia menjadi wartawan Mimbar Minggu dan Suara Persatuan, juga diterima sebagai anggota PWI Cabang Padang. Sajak-sajaknya terkadang dimuat dalam koran Hari Minggu (?) terbitan Jakarta.
Sebagai aktivis IPPI, Mawi mengorgasir IPPI dari tingkat sekolah sampai ke tingkat daerah, dan dalam tugasnya yang terakhir adalah sebagai Ketua Umum Pimpinan Daerah Sumatra Barat di tahun 1962. Dia juga aktif dalam mengurus Arena Muda Club (AMC) yang atas inisiatifnya dengan pengasuh ruangan ini, Rasyidin By, di dalam Mimbar Minggu, dia sempat menjadi Pimpinan Pusat yang cabang-cabangnya sampai di luar Sumatra Barat. Aktif dalam kegiatan mengisi siaran sastra di Radio Padang dan penyiar acara “Olahraga Sepekan”. Sebagai deklamator pernah beberapa kali menjuarai lomba deklamasi Kota Padang dan Juara Pertama Lomba Deklamasi Kongres IPPI VI di Jakarta dengan Piala Menteri PDK Prijono. Dalam Kongres ini, Mawi terpilih menjadi Komisaris Organisasi Pengurus Besar IPPI pimpinan Budiman Sudharsono.
Tahun 1962, pindah ke Jakarta. Setelah menyelesaikan sekolahnya di SGPD, tidak menjalankan tugasnya sebagai guru di Sekolah Menengah Pertama yang bagi dia sudah tersedia dan ditempatkan di pusat kota Padang. Maka begitu dia selesai menyelenggarakan Konferensi IPPI Sumatra Barat tahun itu, lalu berangkat ke Jakarta untuk menerima tugas dari surat kabar tempat dia bekerja untuk mengikuti sekolah kewartawanan. Karena sekolah kewartawanan itu tidak jadi diselenggarakan, maka dia masuk ke Akademi Jurnalistik Dr. Rivai dan aktif di PB IPPI.
Semula tinggal di Cendana 3 di Kantor PB IPPI, kemudian tinggal di Press House, Jalan Thamrin. Pada akhir tahun, di Jakarta tinggal bersama keluarga Joesoef Isak di Singamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta.
Aktivitas terpusat pada pekerjaan PB IPPI dengan melakukan kunjungan kegiatan pendidikan kader dan konferensi-konferensi di Jakarta Raya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan Selatan dan Tengah. Serta mempersiapkan Kongres IPPI VII Lomba Seni dan Olahraga tahun 1964 di Jakarta.
Sebagai wartawan Bintang Timur ketika itu, ikut meliput kegiatan Ganefo, membantu Panitia Konferensi Wartawan Asia Afrika sampai terbentuknya Sekretariat Sementara Persatuan Wartawan Asia Afrika di Jakarta. Menulis sajak-sajak dan adakalanya cerita pendek di Lentera Bintang Timur dan HR Minggu dengan nama “Mawie”.
Ketika terjadinya gejolak anti Inggris dan Amerika di Indonesia, dia bersama beberapa teman dari IPPI menurunkan bendera Taiwan dalam Asian Games di Senayan Jakarta. Ikut mengobrak-abrik Kedutaan Inggris yang berhadap-hadapan dengan Bundaran Hotel Indonesia. Selanjutnya memanjat gedung bertingkat tiga dari rumah Duta Besar Inggris (?) di Jalan Diponegoro (?) untuk memenuhi tuntutan ribuan massa demonstran ketika itu mengibarkan Sang Saka Merah Putih
Di gedung tersebut, melakukan corat-coret "Milik RI", "Ganyang Malaysia", "Ganyang Inggris dan Amerika", "Hidup Bung Karno, Hidup Rakyat". Di sini dan pada waktu itu ketika Komandan Polisi yang melakukan pengamanan berteriak-teriak memanggil siapa sebagai penanggung jawab demonstrasi tapi tidak ada yang tampil, maka Mawi tampil mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin demonstrasi. Dan melakukan dialog dengan para demonstran serta pihak keamanan.
Akhir Desember tahun 1964, setelah menyelesaikan tugas sebagai Kepala Biro Lomba Seni dan Olahraga dalam Kongres IPPI VII Lomba Seni dan Olahraga di Jakarta, dia mendapat tugas belajar ke Peking melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Peking. Sebelum masuk ke STO, belajar bahasa Tionghoa setahunan di Akademi Bahasa Asing Peking.
Aktivitas selain mengikuti kegiatan dari sekolah yang berbentuk kerja badan membantu petani panen gandum misalnya, juga ikut mengunjungi museum-museum sejarah di Kota Peking. Aktif ambil bagian dalam aksi-aksi demonstrasi di Lapangan Tien An Men menentang Amerika mengebomi Vietnam. Juga ikut kegiatan kesenian pada hari peringatan 17 Agustus yang diselenggarakan oleh KBRI Peking.
Setelah pecah G30S, seiring dengan itu terjadinya Revolusi Besar Kebudayaan Proletar di Tiongkok (RBKP), maka keadaan kuliah di STO tidak berjalan dengan normal lagi. Ia bagian dari mereka yang menentang rezim militer yang ditegakkan oleh Soeharto dan menggulingkan kekuasaan Presiden Soekarno, tidak mengikuti ajakan KBRI Peking untuk mendaftarkan diri ke kedutaan yang selanjutnya akan dipulangkan. Dia kemudian bergabung dengan majalah Suara Pemuda dari PPI di Tiongkok dengan menulis “Catatan Seorang Rekan”.
Tahun 1966, setelah naik tingkat 2 di STO dan masa libur musim panas, dia berangkat ke Selatan. Di sini dia menggunakan waktu untuk belajar sejarah perjuangan rakyat Indonesia berhasil-gagalnya dalam melawan kolonialisme Belanda dan kaum imperialisme dan kaki-tangannya di dalam negeri. Menggunakan kesempatan yang tersedia untuk belajar sejarah perjuangan rakyat Tiongkok untuk mencapai pembebasannya
Sekitar Tahun 70-an, dia berangkat ke pedesaan dengan aktif ikut ambil bagian belajar kepada kaum tani miskin Tiongkok masa lalu dan masa kininya. Baginya, ini belajar mengenal mana yang pohon padi dan mana pohon lalang. Di sini dia telah melakukan kerja badan membuka ladang sayur-mayur, memikul pupuk manusia dan membuat pupuk/kompos dari humus tanah dan rumput-rumputan, serta ikut menjadi tukang kayu atau memelihara ternak babi. Tidak lupa mengorganisir dan membuka lapangan olahraga. Di tahun-tahun ini dia berkesempatan menulis sajak lagi dengan menggunakan nama: “Maori”, “Al Maori”, “Ambo Laut”, yang dimuat oleh majalah Kancah atau Suara Rakyat Indonesia. Juga pernah ke pabrik dalam rangka belajar disiplin kaum buruh sebagai buruh gerinda. Sedikit belajar kepada rakyat yang sedang berjuang mencapai kemerdekaan dan kebebasan mereka.
Akhir tahun 1989 dia meninggalkan Tiongkok dan berangkat ke Barat menuju Negeri Belanda bersama istri dan dua anak yang masih kecil-kecil. Sejak itu dia menetap di Negeri Belanda sampai kini. Sejak itu pula dia bisa dengan aktif menulis sajak-sajak terutama di dalam majalah Kreasi, Arena pimpinan A. Kohar Ibrahim dengan nama “Mawie Ananta Jonie” seperti nama sekarang ini. Sehubungan dengan itu, bersama Hersri Setiawan, K. Sulardjo, dan kawan-kawan, mendirikan YSBI (Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia).
Buku-buku yang pernah diterbitkan: Nyanyian Persahabatan dan Sebuah Surat Musim Bunga, Janji Kepada Yang Mati dan Berontak, beberapa kumpulan puisi bersama, antara lain Di Negeri Orang, Yayasan Lontar dan YSBI, Otobiografi kumpulan kisah-kisah masa kecil Anak Minang Itu Bercerita. Dua kumpulan sajaknya: Di Balik Tembok Berduri dan Seratus Puisi Bagimu Negeri diterbitkan oleh Indonesia Media Amsterdam. Dan ada beberapa naskah yang masih tersimpan.
MAWIE ANANTA JONIE

*

Sajak Sajak Mawie Ananta Jonie:


MATINYA KARENA LAPAR

Seorang ibu mati membawa bayi dalam kandungan,
karena penyakit dan kelaparan berhari hari tak cukup makan.

Di mana? kau bertanya. Di sebuah lorong kota orang orang berada,
di depan mata Makassar cucuku penduduk bersedih dan berduka.

Ibu dan anak mati di sebelah hiruk pikuk korupsi di kalangan pembesar,
mati karena lapar!, karena lapar!, karena lapar!

Lelakinya seorang tukang becak,
tapi mereka hidup tidak menjilat dan merangkak.

Amsterdam, 4 Maret 2008


*

MENCARI JEJAK YANG HILANG

Bertanya lelaki itu kepada langit dan bumi
tatkala G30S pecah Zul diculik entah ke mana dibawa pergi.

Dulu ketika daerah bergolak ingin berpisah dari Jakarta,
dia bela kemerdekaan dan negara kesatuan dengan nyawanya.

Maka Zul masuk keluar penjara sampai di Situjuh,
lolos dari kamp dan perburuan selamat dari daftar yang dibunuh.

Kian kemari lelaki itu bertanya mencari jejak yang hilang
hanya ada jawaban dia diamankan kemudian tak lagi pulang.

Senja di pantai Padang depan lelaki itu mentari terbenam,
wajah Zul timbul di muka laut dan purnama terbit diam diam.


Amsterdam, 7 April 2008


*

SUNGAI YANGTZE

Musim panas tahun enampuluhan dia bertolak dari utara,
dengan kereta api penumpang ke selatan cari muara.

Menyeberangi Sungai Yangtze meracak kapal angkutan,
senja menyambut dan sinar menari di pelabuhan.

Gelombang dan derumu terdengar juga sampai jauh,
ke hanggar kapal pesiar dan nelayan menurunkan sauh.

Perang dan pemberontakan pernah diakhiri di sini,
ketika melawan agresor ribuan pejuang jatuh kebumi.

Lelaki itu bercermin pada masa kini dan masa lalu,
dengan menyusuri lika liku aliranmu..

Amsterdam, 10/12/2008.

*


DIA TIDAK MENYERAH

Hujan turun sepanjang hari sepanjang malam di kotaku,
terasa musim semi tiba kembali dan musim dingin akan berlalu.

Seorang veteran Amerika dari perang Irak lewat di layar kaca,
dengan istri dan anak hidup di kotanya tanpa rumah tanpa kerja.

Untuk kepentingan penguasa masa remajanya telah dia serahkan,
kini yang dia risaukan hidup tanpa rumah tanpa pangan.

Seorang veteran Amerika dari perang Irak itu tak menyerah,
di depan hidup mati jadi pilihan atau hari depan yang gelisah.

Hujan tak turun lagi pagi ini langit yang kelabu disapu mentari,
aku menyaksikan senyum veteran Amerika itu dalam mimpi.


Amsterdam, 21 Maret 2008

*


MENUNGGANG KUDA MEMETIK BUNGA


Tinggi bukit seribu gunung bertahun baru di rumah mertua,
bersandal jepit berkain sarung menunggang kuda memetik bunga

Di pekarangan rumah babi dan ayam berebut makan,
padi ditumbuk ditampi dinyanyikan.

Trompet dan tambur diarak dimainkan si buyung,
di rumah rumah bertingkah alu dengan lesung.

Tua muda laki perempuan melingkar berpegangan jari,
mengayunkan langkah menari dan menyanyi.

Istri kubimbing anak kupangku.
orang kampung tempatkan dahulu.


Amsterdam, 19 April 2008


*
Demikian 5 sajak karya Mawie Ananta Jonie yang sarat pertanda berat sebagai penyair souvenir dengan kecakap-cakep-annya mengkomposisi larik-larik kata puitiknya seperti sajak Sekelumit Kenangan (souvenir) bagi Pram di atas. Pertanda terang lainnya yang penting dari menyimak biodatanya, terutama sekali adalah pada awal aktivitas masa mudanya sebagai aktivis IPPI. Sekali lagi dan saya garisbawahi bahwasanya aktivitasnya  dalam berorganisasi hanyalah sebagai aktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia. Bukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Maka sungguh absurd jika dia di-insinuasi-kan mengetahui akan terjadinya kudeta atau peristiwa yang berdarah yang merupakan Tragedi Nasional 1965 – semata-mata karena telah menulis sebuah sajak berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah yang dimuat di ruang kebudayaan Lentera koran Bintang Timur dalam tahun 1964! Jika diingat pula, jangankan anggota organisasi massa macam IPPI, anggota PKI bahkan para anggota instansi tingginya seperti Comite Central PKI saja pun tidak mengetahui “rencana kudeta” yang dituduhkan oleh rezim OrBa. Suatu situasi yang masuk akal, karena yang diketahui oleh umum  -- nasional maupun internasional – PKI, untuk mencapai tujuan memegang tampuk kekuasaan bukan dengan jalan kekerasan senjata, melainkan dengan menempuh Jalan Damai alias Jalan Parlementer. Sedangkan jalan pintas macam kudeta tidak tercantum dalam Program PKI. Adapun “rencana kudeta” tidaklah mungkin dilakukan secara terbuka melainkan secara rahasia. Cara rahasia yang tak mungkin diketahui oleh organisasi di luar PKI. Apalagi organisasi pemuda pelajar macam IPPI!

Tetapi, apa daya! ke-absurd-an atau lebih jitunya ke-paranoia-an memang ciri mencolok dari garis politik-ideologi OrBa yang dengan dusta dan fitnah menuduh jutaan manusia sebagai yang terlibat “G30S/PKI”. Iya. Sekian jutaan manusia dari pemuda-pelajar sampai kaum buruh, nelayan dan petani diujung gunung pun diberi cap nista: terlibat kudeta atau  pemberontakan “G30S/PKI”. Makanya mereka layak diperlakukan secara sewenang-wenang, diinjak-injak hak-hak azasi manusianya, dijadikan sasaran kebiadaban militeris-fasis yang belum pernah terjadi dalam lembaran sejarah politik Indonesia.

Seorang Mawie yang aktivis IPPI dan penulis sajak di Lentera, kalau tidak lagi di mancanegara, tentulah salah seorang pemuda-pelajar yang turut dibuang ke Pulau Buru. Sebagai korban kebiadaban bersama ragam macam aktivis organisasi massa kiri lainnya, termasuk para penulis macam Pramoedya Ananta Toer! Iya, bukan seorang, bukan pula 7 orang yang dibuang di kamp kerjapaksa Pulau Buru, melainkan sepuluh-ribu-an jiwa! Di samping jutaan jiwa korban penindasan lainnya tanpa dosa di seantero Nusantara. Tanpa pula diadili oleh penguasa OrBa paranoia. Pun hingga detik ini!

Dalam kenyataannya, sesungguhnyalah mereka yang benar-benar berdosa – kaum algojo dan para penanggungjawab kejahatan kemanusiaan – pun belum pernah diseret ke depan meja pengadilan dari Negara Republik Indonesia yang merupakan Negara Humum ini!

Sesungguhnyalah, boleh-boleh saja aktivis IPPI macam Mawie dan sajaknya itu jadi soal yang dipersoalkan, semata-mata demi upaya pencerahan. Demi upaya mengungkap-beberkan segamblang-gamblangnya siapa sesungguhnya yang menjadi otak sekaligus perencana serta pelaksana Peristiwa Berdarah-Darah berupa kudeta yang berkelanjutan dengan pembantaian massal dan penindasan berjuta-juta jiwa manusia banyaknya. *** (13.12.2008)

Catatan:
Bahan berupa biodata Mawie Ananta Jonie dan sajak-sajaknya serta info yang diperlukan saya terima langsung dari Mawie sendiri. Naskah SPBB ini masih akan disambung ke nomor (16).
Sekedar ilustrasi: Foto Mawie sekeluarga ketima masih bermukim di Tiongkok.
 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.