Budaya Dusta Dan Takut vs Integritas dan Keberanian
Oleh A.Kohar Ibrahim    Sabtu, 16 Mei 2009 04:25    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 1
KurangTerbaik 

A.Kohar Ibrahim :

Budaya Dusta Dan Takut vs Integritas dan Keberanian


SPBB (14)

 

PERIHAL yang amat mengesankan dari seorang pujangga macam Pramoedya adalah karakternya yang layak diteladani. Karakter yang konsisten dijaga dan dipupuknya. Yakni keintegritasannya, keutuhannya, kejujurannya, ketulusannya dan keberaniannya serta kepeduliannya pada sejarah. Kesemuanya terbuktikan sepanjang jejak-langkah aktivitas-kreativitasnya, baik di zaman Sukarno maupun sesudah tegaknya rezim OrBa. Rezim OrBa paranoia dengan budaya dusta dan ketakutan serta kezaliman luarbiasa.

Karakter teriring jejak-langkah dari aktivitas-kreativitas Pramoedya itu merupakan contoh gamblang dari kaum pengarang yang dimaknainya sebagai avant-garde. Sebagai bukti kelanjutan saja dari kaum avant-garde pendahulu sekaligus yang dijadikan guru-gurunya seperti Tirto Adhisoerjo, Mas Marco dan Multatuli.

Pandangan Pramoedya mengenai pengarang avant-garde yang disebutnya sebagai golongan ketiga, dikontraskan dengan golongan pertama dan kedua itu justeru diuraikan dalam makalahnya yang diutarakan untuk menerima Hadiah Magsaysay di Manila. Makalah berjudul : Sastra, Sensor Dan Negara.

Dalam apresiasinya terhadap karya sastra, Pram terus terang bilang, bahwa, seiring dengan pengalaman pribadinya, « Walau pada awalnya tidak saya sadari, langsung saya tertarik pada sastra yang bisa memberikan keberanian, nilai-nilai baru, cara-pandang dunia baru, harkat manusia, dan peran individu dalam masyarakatnya. Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya diabdikan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang dicitakan. Sastra dari golongan ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di bidang kreasi. »

Demikian antara lain ujar Pramoedya dalam makalahnya berjudul  Sastra, Sensor Dan Negara seperti yang saya turunkan di Majalah Kreasi N° 25 Th 1996 itu. Lebih lanjut, ungkapannya yang amat cerah berkenaan dengan makna karya sastra dan tugas pengarang. Bahwasanya : « Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap dan situasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan kekuasaan, standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai individu terpancarkan baik dengan sadar atau tidak. Sampai di sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevaluasi kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena pengarang bersangkutan tidak puas, merasa terpojokkan, bahkan tertindas oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseteru, malah melawan, bahkan memberontak. Bukan suatu kebetulan bila pernah dikatakan pengarang – dengan sendirinya dari golongan ketiga – dinamai oposan, pemberontak, bahkan biang revolusi seorang diri dalam kebisuan. »

« Dan sebagai individu seorang diri, » ujar Pram lebih jauh, «sebaliknya ia pun harus menanggung seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang merasa terancam kemapanannya. » Lebih lanjut lagi, ditandaskannya, bahwa : « Berdasarkan historinya, Indonesia memerlukan sebarisan besar pengarang dari golongan avant-garde. Berabad lamanya rakyat bawah membiayakan feodalisme. Dengan kemenangan kolonialisme, rakyat kemudian juga harus membiayai hidupnya kolonialisme. Walau feodalisme sebagai sistem sudah dihapuskan oleh proklamasi kemerdekaan namun watak budayanya masih tetap hidup, bahkan elit kekuasaan mencoba melestarikannya. Sastra avant-garde-lah yang menawarkan evaluasi, reevaluasi, pembaruan, dan dengan sendirinya keberanian untuk menanggung risikonya sendirian. »

Pengutaraan Param akan perlunya memiliki keintegritasan, keutuhan dan kejujuran dengan menekankan pula perlunya memiliki keberanian itu tepat sekali. Tepatnya selaras tuntutan zaman ; selaras situasi dan kondisi kehidupan bangsa di bawah kekuasaan yang zalim. Kekuasaan yang memang ditegakkan dengan dusta dan terorisme atau ketakutan teriring kekerasan yang telah membudaya.

Dampak buruk dari politik kekuasaan OrBa paranoia itu, bukan saja menelan derita-sengsara dan korban jutaan jiwa manusia, melainkan juga menjangkiti mentalitas sementara kalangan, termasuk kalangan yang sejak semula menjadi pendukungnya. Para pendukung yang  termasuk juga kaum seniman dan pengarang serta budayawan, sehingga sebagian dari mereka jadi kaum hipokrit dan layaknya invalid saja. Invalid dalam artian punya mata  tapi tak melihat dan punya telinga tapi tak mendengar serta punya hati tapi membatu. Sehingga tidak mau tahu dan atau tak mampu melihat kenyataan apa adanya  -- kenyataan berupa tragedi nasional yang dahsyat. Sedangkan sebagian lainnya secara tak tahu malu bersikukuh memberikan dukungan bagi kelanggengan kekuasaan zalim OrBa, meski secara internasional telah terungkap dan terkutuk.

Dengan mengenal sekali watak bengis sang penguasa, dari pengetahuan maupun pengalamannya sendiri, Pramoedya seringkali menganjurkan perlunya keberanian. Terutama sekali kepada kaum generasi muda. « Beranilah ! » ujar Pram. Sebab : « Tanpa keberanian nasib tidak akan berubah…. Di mana saja melatih keberanian, di mana saja kau berada melatih keberanian seiring dengan persoalannya itu. … Walaupun gelar sarjanamu berlapis lima, tanpa keberanian tetap fosil. Nggak akan merubah apa-apa. Berapa banyak sarjana cuma begini-begini. »

Demikian soal keberanian ditandaskan oleh Pramoedya dalam wawancaranya dengan tim liputan Tabloid SAS Jakarta 1994. Menjawab pertanyaan apakah ketakutan itu merupakan ciptaan sistem, Pram tiada ragu-ragun menjawab :

« Iya, sistem ini membutuhkan ketakutan rakyat. Itu sebabnya kalau Sukarno menciptakan nation hanya dengan pidato, tanpa dengan meneteskan darah, untuk mendirikan OrBa lebih satu juga orang dibunuh. Hanya untuk menumbuhkan ketakutan. Dan untuk jaminan pada kapitalisme internasional, bahwa kapitalmu akan selamat di Indonesia tidak ada yang mengganggu, itu jaminan. Sekian banyak orang di pulau Buru tidak satupun yang diajukan ke pengadilan. Ini peradaban apa ! Itu hukum apa ! Sedangkan masa revolusi tidak sebanyak itu. Untuk mendirikan OrBa … itulah. Tapi generasi muda tahu kan tentang pembunuhan ? Itu jangan dilupakan. »

Perihal kebiadaban rezim OrBa itu, dalam kata pengantar yang ditulisnya untuk buku Greg Poulgrain, yang saya turunkan untuk Majalah Kreasi N° 32 Agustus 1997, Pramoedya kembali memberikan penegasan yang sarat akan gugatan :

« Begitu banyak orang telah dibunuh tanpa perang. Dalam sepanjang era Orde Baru tak seorang pun di antara para pembunuh massal itu pernah diseret ke pengadilan. Logikanya bila pembunuh dibenarkan untuk mendirikan kekuasaan, maka pembohongan, perampasan, penindasan menjadi soal kecil. Sebaiknya semua itu tak perlu terjadi. »

Tetapi begitulah yang terjadi. Begitulah tumbuh berkembang dan terpeliharanya budaya dusta teriring kebiadaban berupa KKKN (Kejahatan Kemanusiaan, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang telah mendera bangsa dan negara Republik Indonesia selama tiga dasa warsa lebih bahkan berkelanjutan setelah OrBa-HMS tumbang. Terbukti, meski sudah sekian lama era reformasi, namun  sistem dan atau mentalitas OrBa-is yang paranoia masih merupakan bahaya laten. Seperti terpapar-uraikan dalam serangkaian naskah bloknota ini.

Dalam kaitan peristiwa kebiadaban yang diciptakan penguasa biadab yang semacam, seperti di Chili di bawah diktator militer Jenderal Pinochet, saya ingin menyiar ulang sebuah sajak berjudul Musuh oleh penyair besar negeri tersebut : Pablo Neruda. Seperti di bawah ini.

*

M u s u h

Oleh : Pablo Neruda

Mereka tiba di sini dengan laras senapan penuh peluru,
mereka memerintahkan kelangsungan pembantaian,
mereka jumpai di sini rakyat sedang bernyanyi,
rakyat yang berkumpul demi tugas dan cinta,
seketika pemudi ramping rebah bersama bendera,
seketika pemuda senyum membalut luka si pemudi,
seketika rakyat terperanjat menyaksikan korban berjatuhan,
dengan penuh amarah, pilu dan pedih.
Maka, di tempat mana berjatuhan
korban pembunuhan,
bendera-bendera yang rebah bersimbah darah
lalu bangkit kembali menghadapi para pembunuh.

Atas nama para korban, kawan kawan kita,
ku tuntut hukuman.

Bagi yang menyimburkan darah tanahair kita,
ku tuntut hukuman.

Bagi sang durjana pemberi perintah pembantaian,
ku tuntut hukuman.

Bagi yang melancarkan orde sekarat,
ku tuntut hukuman.

Bagi pendukung kejahatan ini,
ku tuntut hukuman.

Aku tak mau menjabat tangan mereka
yang berlumuran darah kita.
Ku tuntut hukuman.
Juga tidak pada para Dutabesar
yang aman tenteram dalam kediaman mereka.

Ku mau menyaksikan mereka diadili di sini,
di sini, di tempat ini.

Ku mau mereka dihukum.

(Pablo Neruda : Les enemis)

*

Demikian sajak Pablo Neruda, penyair progresip revolusioner Chili, yang saya terjemahkan dari versi bahasa Perancis berjudul Les enemis in Anthologie des poétes du monde entier de Homère à nos jours, Marabout, Paris 1984. Saya turunkan untuk Majalah Arena N° 13 Th 1994, dimuat ulang dalam kumpulan puisi  Kreasi N° 28 : Yang Tertindas Yang Melawan Tirani.

Sajak Pablo Neruda yang mengungkap kebenaran sekaligus menuntut keadilan itu sesungguhnyalah merupakan salah sebuah karya sastra yang mengumandangkan lagu manusia yang universal.

Namun, perjuangan untuk penegakkan kebenaran dan keadilan, perjalanan demi terbinanya kehidupan masyarakat manusia yang menusiawi dan beradab di Nusantara, masih memerlukan waktu yang entah kapan kesampaian. Dalam kaitan ini, perhatian saya tertumpu pada prediksi yang sarat akan harapan Pramoedya pada kreativitas sastrawan Indonesia. Seperti yang diutarakannya dalam makalahnya yang masyhur : Maaf Atas Nama Pengalaman. Salah sebuah naskah penting Pram yang saya turunkan di Majalah Arena N° 7 Th 1990-92. Saya sitir dua paragraf akhirnya yang penting dan layak kaji :

« Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tugas mengelola semua materi yang belum selesai itu dalam suatu karya sastra. Bukan mencerminkan atau memantulkan kejadian-kejadian, karena sastra tidak bertugas memotret, tetapi mengubah kenyataan-lenyataan hulu menjadi kenyataan sastrawi, yang membawa pembacanya lebih maju daripada yang mapan. »
« Apakah sikap demikian sikap yang subversif, atau kriminal ? Itu pun terserah pada tuan-tuan yang berkuasa, yang mempunyai serdadu, polisi, dan perangkat administratif. Tindakannya tak lain dari apa yang tingkat peradaban budayanya bisa berikan. Sekiranya lebih maju daripada takaran peradaban dan budayanya, semoga demikian, boleh jadi itu suatu isyarat positif, kutukan 7 turunan Gandring tidak akan berlaku sampai 2 generasi, karena babak sinthesis sedang di ambang pintu. Yang jelas, semua yang telah terjadi akan abadi dalam ingatan bangsa ini dan umat manusia sepanjang abad, tak peduli orang suka atau tidak. Para pengarang akan menghidupkannya lebih jelas dalam karya-karyanya. Para pembunuh dan terbunuh akan menjadi abadi di dalamnya daripada sebagai pelaku sejarah saja. Topeng dan jubah suci akan berserakan. »

Demikian pernyataan yang merupakan keyakinan Pramoedya Ananta Toer sang Pujangga terkemuka Indonesia. Yang juga menjadi keyakinan saya. *** (10 Desember 2008)

Catatan : Naskah bloknota SPBB ini akan disambung ke nomor 15. Majalah Sastra & Seni Kreasi dan Majalah Opini & Budaya Pluralis Arena (1989-1999), masing-masing terbit di Amsterdam dan Culemborg, Nederland, dieditori oleh : A. Kohar Ibrahim.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Vnet

Iklan Kampanye

Advertising

Top Kontributor

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.