| Abadilah Anugerah Megah Pujangga Yang Terhujah | ||||
|
|
A.Kohar Ibrahim :
Pengalaman perjuangannya yang pahit-getir yang telah teruraikan itu sampai pada tahun 1992. Selanjutnya, pada masa penerimaan Anugerah Magsaysay Award tahun 1995, Pram menegaskan, bahwa meski « berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan nasional ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya selama 33,5 tahun. 2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun dirampas kekuasaan militer semasa Orde Lama, dan 30 tahun semasa Orde Baru, di antaranya 10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16 tahun sebagai ternak juga jadi warganegara dengan kode ET, artinya tahanan di luar penjara. » (Kreasi N° 25 Th 1996, hlm 11). Begitulah Pramoedya seorang putera Indonesia sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus berjuang menunaikan kewajibannya untuk menjadi manusia. Sedangkan selaku pujangga sewajarnyalah pula dia bukan hanya berjuang untuk menjadi manusia diri pribadinya melainkan sekalian juga berjuang untuk memanusiakan manusia. Dengan daya kreativitasnya yang luarbiasa di bidang kesusastraan. Keluarbiasaan baik dalam kwantitas maupun kwalitas ; keluarbiasaan dalam keharmonisan gubahannya yang merupakan lagu manusia bersifat individual sekaligus universal ; lokal sekaligus nasional dan internasional. Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika hasil karya Pramoedya itu « menarik perhatian di pelbagai benua », seperti diungkapkan oleh Ramadhan KH dalam Majalah DETIK N° 563, 2 November 1992. Bahkan, dalam majalah yang sama nomor 564, sastrawan Ramadhan KH menegaskan, bahwa : « Karya-karya Pramoedya, menurut saya lebih bagus ketimbang karya-karya Najib Mahfudz, pemenang Nobel dari Mesir itu. » Pengungkapan Ramadhan KH yang kontras dengan penilaian Ikranagara itu selaras dengan kenyataan adanya serentetan penghargaan internasional terhadap Pram, seperti digemakan dalam postingan Iwamardi : 1. 1988 PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write Award. 3. 1992 English P.E.N Centre Award, Great Britain. Menyimak sejumlah organisasi atau lembaga internasional yang prestisius yang memberi perhatian sekaligus apresiasi dan anugerah yang tinggi terhadap aktivitas-kreativitas Pramoedya, maka bisalah dengan mudah dimengerti akan rasa heran keheranan Iwamardi, pun para pengagum sang pujangga Indonesia lainnya. Kenapa seorang pengarang macam Ikranagara, pun duapuluhan orang lainnya menanda-tangani surat pernyataan protes atas Anugerah Magsaysay Award untuk Pramoedya Ananta Toer. Jawaban atas apa-kenapanya sesungguhnyalah mudah dan sudah diketahui. Yakni selaras dengan sikap-pendirian politik-ideologi yang mereka jadikan panglima: anti-komunisme OrBa. Oleh karena itu, demi kepentingan tertentu, maka mereka tidak mampu melakukan apresiasi aktivitas-kreativitas secara obyektip. Dalam kaitan ini, sebagai perbandingan lebih jauh, kiranya opini cendekiawan Belanda terkemuka Prof. W.F. Wertheim dan Dr. A. Teeuw sangat layak menjadi perhatian kita. Opini yang dimaksudkan adalah berupa ulasan Wertheim atas buku A. Teeuw “Pramoedya Ananta Toer: De verbeelding van Indonesië”. Ulasan yang berjudul “Penghargaan Besar Buat Pramoedya” saya turunkan di Majalah Kreasi N° 19, Agustus 1994. Point-point pentingnya saya sitir dengan huruf cetak miring sebagai berikut: Prof. W.F. Wertheim: (1). “Sudah dalam awal 1980-an Andreas Teeuw, profesor kesusastraan Indonesia di Universitas Leiden, dikenal sebagai pengagum karya-karya sastra Pramoedya. Sudah pada tahun 1980 itu jugalah, setelah diterbitkannya Bumi Manusia ia bahkan mengusulkan agar Pramoedya dapat menjadi calon penerima Hadiah Nobel untuk kesusastraan. (2). “Di dalam bukunya ini Teeuw, walaupun dengan cara yang lebih hati-hati dibandingkan dengan kebanyakan pengarang Indonesia dan pengamat asing, mengritik ‘kata-kata keras’ Pramoedya dalam karangan-karangannya sebagai jurnalis pada tahun 1960-an. Tetapi dalam pada itu Teeuw setuju, bahwa penderitaan besar Pramoedya baik dari penugasa Belanda maupun Indonesia akhirnya sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kurban-kurban ‘serangan kata-kata keras’ yang mungkin dapat dialamatkan kepadanya.” (3). “Dengan rasa empatinya yang dalam Teeuw menganalisis isi buah cipta sastra Pramoedya. Satu di antara motif-motif yang paling mencolok di dalam ‘Citra Indonesia’ ini ialah, daya-upayanya untuk merasuki dan memahami hubungan antara imajinasi dan realitas sejarah di dalam karya-karya novel dan cerpen Pramoedya. Dalam hubungan ini Teeuw mengajukan gambaran yang menarik: realitas ‘arus atas’ yang membuncah ke dalam fiksi ‘arus bawah’. Menurut Teeuw sejumlah besar karya sastra Pramoedya memang bercirikan semacam ‘ketegangan’. Saya terjemahkan kutipan dari buku Teeuw ini: ‘Pertama-tama terdapat ketegangan terus menerus yang selalu mencekam pembaca, Teeuw menambahkan bahwa, khususnya di dalam tetralogi novel sejarah yang disusun di Buru dan terbit dalam tahun 1980-an itu, Pramoedya telah memperlihatkan bagaimana sebuah karya sastra yang ulung merupakan sintetis kontradiksi semacam itu; bagaimana semua unsur yang beraneka warna, oleh tangan seorang maestro, telah digabung sehingga menjadi kesatuan yang lebih tinggi; dan bagaimana seterusnya, ketegangan-ketegangan di dalam ‘keekaan yang berbineka’ itu, bersifat menentukan bagi mutu sesuatu karya cipta.” (4). “Menurut pendapat Teeuw, ciri pokok karya-karya cipta Pramoedya sepanjang empat dasawarsa kegiatan sastranya tetap tidak berubah: kecakapan kepengarangannya, yang diperolehnya dengan belajar sendiri itu, selalu diabdikannya untuk ‘keadilan, kemerdekaan, dan kesamaan semua umat manusia, serta untuk harkat kemanusiaan’. Bagaimana sang pujangga dan hasil karyanya diperlakukan oleh ‘Orde Baru’, Teeuw merumuskannya dalam kata-kata yang tegas dan tegar: ‘Para penindas Pramoedya yang mempertahankan sistem yang memalukan dan menindas kebebasan, dan yang jika perlu dengan mengurbankan norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan itu, akan lenyap dari sejarah seketika kekuasaan mereka hancur. Tetapi Pramoedya, yang sepanjang hidupnya membela keadilan dan kemanusiaan hanya dengan bersenjatakan bahasa itu, akan tetap hidup selama-lamanya sepanjang masih ada para pembacanya.’ “ (5). “Teeuw menyimpulkan bukunya yang bagus ini dengan kalimat: ‘Daya meyakinkan, ketegaran, dan kreativitas Pramoedya, yang dengan menggunakan alat bahasa, sepanjang hayat mengabdi kepada kebenaran, kemanusiaan dan keadilan, membuktikan dirinya sebagai calon yang pantas untuk menerima kehormatan internasional tertinggi: Hadiah Nobel untuk Kesusastraan.’ Demikian point-point penting dari naskah ulasan oleh Prof. W.F. Wertheim atas buku Dr. A. Teeuw Pramoedya Ananta Toer: De verbeelding van Indonesië, De Geus, Breda, 1993. Sesungguhnyalah, fakta-fakta aktivitas-kreativitas Pramoedya Ananta Toer begitu kaya dan tangguh untuk mendasari segala argumentasi bagi anugerah megah yang ditujukan kepadanya. Kesemuanya itu pun merupakan anugerah abadi dari Pram sendiri untuk masyarakat Indonesia dan dunia yang dengan sendirinya mematahkan segala hujah penghujahnya. *** (05.12.2008) Catatan:
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|











