Apresiasi Aksi Kemanusiaan Anti Kemanusiaan
Oleh A. Kohar Ibrahim    Minggu, 19 April 2009 07:56    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Apresiasi Aksi Kemanusiaan Anti Kemanusiaan

SPBB (10)
Oleh : A. Kohar Ibrahim


DARI uraian terdahulu, jelas tercatat bahwasanya di antara duapuluhan lebih penentang pemberian Magsaysay Award untuk Pramoedya  itu adalah Ikranagara. Maka dari itu mudah dipahami kalau sampai sekarangpun Ikra mempunyai sikap pendiriannya yang serupa. Segaris dengan sikap pendirian Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan kaum Manikebuis yang berpanglimakan politik anti-komunis rezim OrBa paranoia.

Ada point-point layak perhatian dari postingan Ikra di Milis Apsas itu. Point-point yang memang selaras dengan apa dan siapa yang di-panglima-kannya. Yakni berupa penebaran tabir asap alias manfifestasi aksi « maling teriak maling ». Kongkritnya mereka (Manikebu/OrBa) yang menuduh pihak lawan politik melancarkan teror namun sesungguhnya mereka sendirilah yang melakukan tindakan kejahatan atas kemanusiaan itu yang luarbiasa dahsyatnya. Mereka tuding-tuduhkan Pramoedya-Lekra berkarya yang menyebarkan anti-kemanusiaan, namun mereka yang sesungguhnya turut aktip melakukan manifestasi aksi anti-kemanusiaan yang terbesar dan yang belum pernah terjadi dalam lembaran sejarah modern Indonesia..


Teror ? Sebenarnya Siapa Menteror Siapa ?


Ikranagara, di Milis Apsas 2 Oktober 2008, antara lain menyatakan :

« Pram aktif mendatangi toko buku, memeriksa apakah di rak buku itu masih dipajang buku-buku terlarang itu. Tulisannya di media massa pun membakar jiwa pengikutnya untuk melakukan hal yang sama di seantero Indonmesia. Teror yang digerakkan oleh Pram dari Jakarta lewat media massa itu memang berhasil menyebar sampai jauh ke pelosok. Api unggun bukit buku pun menyala di mana-mana, disulut oleh pengikut Lekra/PKI. Buku-buku karangan "Manikebuis" saya di Bali ;pun jadi korban, dibakar di depan tokoh orang tua saya. Termasuk buku "Dokter Zhivago" karya Boris Pasternak itu, sejumlah buku STA, HAMKA, Hatta,dll. »

Postingan Ikra itu disambut sastrawan Fahmi Fakih, bertanya-tanya :  « pak ikra, mau cerewet sedikit, neh, apakah ada bukti kongkrit bahwa pram benar-benar menggerakkan pembakaran buku seperti yang anda bilang ini? bisakah anda tunjukkan, media massa apa yang jadi corong pram untuk menggerakkan teror itu? »
 
« Saya nimbrung, yah? »  komen saya, spontan. « Ayo, Bung Ikra, jawab jabarkan pertanyaan Bung FF yang cukup penting ini -- demi penerangan bukan penggelapan, saling bantu saling berbagi.  Ku tunggu, deh. » (Kohar).
 
Ikranagara membalas postingan saya sebagai berikut : « Anda juga ingin tahu ttg zaman itu? » sambut Ikra, terusnya : « Silahkan baca jawaban saya untuk Bung Faqih. Mudah-mudahan Anda serius dalam bertanya, sehingga serius pula ,mencari jawbannya yang sudah banyak didokumentasikan, bahkan juga kaitannya dengan gerakan komunisme di luar negeri itu. Semua fakta sejarah itu sudah didokukmentasikan, silahkan datang ke Pusat Dokumentasi HB Jassin dan Perpustakaan Nasional. Atau datang ke tempat saya, akan saya sajikan dokumentasi- dokumentasi tertulis yang saya punyai. »

 « Mudah-mudahan anda terangsang untuk menuliskannya menjadi sebuah essai dari pandangan generasi Anda. Silahkan! » anjur Ikra.

Menyimak balasan Ikra kontan saya tersenyum. Batinku ! Setelah menyimak ulang postingan-postingannya itu, tak saya temukan jawaban atau penjelasan Ikranagara yang persis dan tegas, melainkan secara umum pun samar-samar bahkan terkesan seperti membaca cuplikan karya fiksi roman melodramatis, dengan rintihan yang seperti lazimnya diulang-ulang kaum Manikebuis « korban teror » Pramoedya. « Teror » berupa prilaku Pram dan Lekra dengan « kekuasaan »nya mengontrol toko-toko buku, menyita lantas dijadikan umpan « api unggun bukit buku » di mana-mana, termasuk buku-buku milik pribadinya.


*

Lebih lanjut, masih pada tanggal 2 Oktober 2008, Ikranagara menambahkan penjelasannya :

« Tentang Pram melakukan profokasi lewat media, silahkan baca dokumen yang sudah ada, antara lain yang sudah saya ungkapkan itu. Lewat media itulah kemudian anakbuahnya di Bali bergerak dan mencari buku-buku "Manikebuis" dan sejumlah buku saya mereka grudug dan bakar itu. Di kota kecil tempat kelahiran saya di Bali itu saya memang selalu membanggakan sejumlah buku yang ketika remaja itu saya suka, antara lain "Dokter Zhivago" sehingga saya sendiri seiorng dipanggil dengan nama "Zhivago" ketika itu. Nah, lewat media massa itulah orang-orang Lekra di kota kecil saya itu tahu saya punya buku-buku yang menurut daftar yang mereka baca di media massa tergolong "Manikebuis" itu.
 
Tentang tindakannya, saya sempat menanyakan kepada yang langsung berpengalaman pahit. Dia adalah Mas Agung, pemilik toko buku dan penerbut "Gunung Agung" yang terkenal itu. Tokonya suatu hari didatangi oleh Pram, dan dengan marah Pram memerintahkan agar buku-buku "Manikebuis" yang sudah dinyatakan terlarang itu dibuang dari tokonya. Antara lain adalah "Dokter Zhivago."
 
Informasi pertama yang saya dapatkan tentang kejadian yang menimpa Mas Agung itu adalah dari teman-teman seniman di Jakarta, dan pada sebuah kesempatan bertemu dengan HB Jassin saya tanyakan hal itu.

Jassin menyatakan kejadian benar terjadi, lalu menyarankan agar saya datang ke toko buku « Gunung Agung » dan bertanya langsung kepada Mas Agung. Jadi, saya laksanakan saran Jassin, dan dari beliaulah saya dapatkan tentang tindakan Pram terhadap tokonya.
 
Menurut Mas Agung, bukan hanya itu. Pram minta agar toko buku Gunung Agung memberikan daftar toko buku di seluruh Indonesia yang menjadi langganan "Gunung Agung" agar bisa dilacak kemana saja buku-buku "Manikebuis" itu dikirimkan. Dari Mas Agung juga saya mendapat keterangan, bahwa bukan hanya toko bukunya dan penerbitnya saja yang digrudug oleh orang-orang Lekra di Jakarta dan kota-kota lainnya. »
 
(Apsas,  2 Oktober 2008)


*

Atas komentar Fahmi Fakih, Ikranagara membalasnya sebagai berikut:

 « Saya senang Anda berkomentar seperti ini, Bung Faqih. Dari komentar Anda, tampaknya Anda dari generasi yang baru, yang punya hasyrat ingin tahu tentang masa itu, masa yang Anda tampaknya memang belum hadir. Kalau Anda hadir, maka Anda akan dengan mudah mengetahuinya. Karena ingin tahu Anda ini saya nilai bagus sekali, jadi saya tanggapi sbb:

Untunglah ada yang sudah mengumpulkan tulisan-tulisan Pram di media massanya ketika di zaman itu. Antara lain ada buku berjudul "Prahara Budaya" yang cukup lengkap disusun oleh seorang dokumentator sastra kita, DS Mulyanto, yang oleh banyak orang diakui sebagai yang nomer dua dalam bidang ini setelah Yassin. Jadi, silahkan baca buku itu, sudah lebih dari cukup.
 
Saya sendiri menuliskan pengalaman saya di masa itu, bagaimana suatu tempat yang lebih dari seribu kilometer dari Jakarta, tertimpa oleh terornya di media itu. Dia melaksanakan apa yang ditulis oleh Lenin dalam bukunya yang berisi semacam manual perjuangan kaum komunis lewat media massa. Jadi, media massa disimpulkan sebagai alat propaganda politik dan sekali gus untuk menggerakkan massa komunis untuk menghancurkan kekuatan lawannya. Dan Pram dkk sangat piawai dalam hal ini.

Jadi, kalau Anda mau lebih dalam lagi tentang masa itu, silahkan baca buku-buku yang mengungkapkan bagiamana kerjanya organisasi  Lekra yang ditulis oleh seorang sarjana Malaysia jebolan UI. Dan  jangan lupa ditambahi dengan buku-buku dari luar negeri yang membahas bagaimana sepak terjang organisasi semacam itu di Uni Soviet dan RRC. Banyak sudah buku-buku semacam itu, yang mengungkapkan Zaman Perang Dingin tersebut.
 
Apa yang anda ingin dapatkan untuk rasa ingin tahu Anda itu sudah didokukmantasikan di banyak buku dan majalah dan koran. Silahkan  melakukan riset kepustakaan atas dokumen-dokumen yang ada di banyak tempat, baik yang di Pusat Dokumentasi HB Jassin, atau pun Perpustakaan Nasional kita, atau di UI, agar Anda bisa puas.
 
Saya akan senang sekali membantu Anda, silahkan datang ke tempat saya, akan saya kopikan bahan yang ada di perpustakaan saya. Saya akan dukung rasa ingin tahu Anda ini, dan akan saya dorong Anda untuk men ulis buku yang boleh jadi lebih bisa dikomunikasikan dengan generasi baru yang segenerasi dengan Anda. Ayolah, jangan kepalang tanggung dalam memenuhi rasa ingin tahu Anda itu! »
 
(Apsas, 2 Oktober 2008)

*

Menurut hemat saya, postingan-postingan Ikranagara tersebut di atas, tidak menunjukkan jawaban yang tegas atas pertanyaan yang diajukan oleh Fakih Fahmi di atas. Yakni : « Apakah ada bukti kongkrit bahwa Pram benar-benar menggerakkan pembakaran buku-buku… »

Kenapa Ikra tidak mampu menunjukkan bukti kongkrit, pasalnya memang tidak ada kejadian seperti yang digambarkan oleh Ikra. Baik dari penjelasan Pramoedya sendiri maupun saksi mata dan peneliti yang jujur lainnya menunjukkan bahwa Pram maupun Lekra tidak melakukan pembakaran buku, apa pula melakukan teror. Semua tuduhan ke alamat Pram dan Lekra itu memang hanya sebagai tabir asap.  

Dalam kenyataannya, yang melakukan vandalisme dan teror adalah pihak mereka – kaum Manikebu/OrBa.

« Bukan hanya buku … popok juga dirampas » ! jelas Pramoedya Ananta Toer dalam wawancaranya dengan SAS (Tabloid Mahasiswa Fakultas Sasrra Universitas Jember) Edisi 42 Tahun 1994. Dalam tulisan yang saya siar ulang di Majalah Kreasi N° 24 1995 itu, selain mengungkap apa dan siapa tokoh-tokoh Manikebu macam H.B. Yassin, Achdiat Kartamihardja, Trisno Soemardjo dan lainnya, juga menegaskan pengalamannya yang amat pahit. Pengalaman di kamp kerja-paksa Pulau Buru selama 14 tahun ; buku-bukunya pada masa OrBa dibakar semua ; rumah dan peralatan rumah, bahkan popok anaknya pun dirampasi !

Sesungguhnyalah bukan pihak Pramoedya, melainkan pihak lawannya yang melancarkan manifestasi aksi teroris berupa pembakaran kantor-kantor, buku-buku, pemecatan, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan sampai pada pembantaian massal yang teramat biadab. Terutama sekali kebiadaban yang terjadi sejak kudeta militer 1 Oktober 1965 di Jawa dan juga di Bali.

Lantaran sudah sejak awal mulanya kejangkitan penyakit budaya politik paranoia OrBa, maka sementara kalangan budayawan, penulis atau penyair, hanya bisa mengutarakan hal-hal seperti isi postingan Ikra, tapi nyaris tabu mengungkapkan kenyataan telah terjadinya kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Kejahatan berupa manifestasi aksi teror dibawah teriak dan kibaran panji-panji « kesucian Pancasila ». Pancasila – yang salah satu silanya adalah Perikemanuisaan. Pancasila yang mereka « persucikan » namun diinjak-injak dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Saya tegaskan : Ikra seenaknya saja melemparkan tuduhan Pramoedya telah menggerakkan teror, hingga buku-buku milik pribadinya pun jadi sasaran. Tetapi, bagaimana perihal merajalelanya kebiadaban berupa aksi terorisme yang juga  terjadi di Bali ?

Untuk rasa ingin tahu, selain untuk saya sendiri, pun terutama sekali untuk generasi  muda, iyalah – selaras anjuran Ikranagara – memang sudah selayaknya kita  memeriksa dokumentasi dan apalagi sudah banyak bahan yang dibukukan. Seperti buku yang dijadikan hadalannya berjudul « Prahara Budaya».

Terima kasih banyak atas masukannya. Akan tetapi, khusus mengenai manifestasi aksi teror, istimewa sekali yang terjadi di Bali, saya memiliki salah sebuah bahan – selain sebagai dokumentasi, juga bahan tulisan yang pernah kami turunkan di Majalah Arena N° 2 Th 1990-1991. Yakni tulisan John Gitting berjudul : Suharto dan Lobang Gelap di Bali.

Cobalah pembaca banding-bandingkan antara dongengan Ikranagara tentang « teror » ala Pramoedya dengan manifestasi aksi teror beneran yang direncana dan dijalankan oleh kaum fasis Indonesia seperti yang dilaporkan John Gitting, yang beberapa bagiannya saya garis-bawahi di bawah ini.

« Matahari telah terbenam di Bali, » tulis John Gitting memulai laporannya itu, « langit tiba-tiba menjadi gelap, ditaburi bintang-bintang gemerlapan. Kerik jangkerik, gonggong anjing berbaur dengan deru kipas angin. Seorang bekas pegawai kecil berkepala botak akhirnya muncul, tersenyum gugup. Saya ingin mendengar cerita yang mengerikan mengenai apa yang terjadi di pulau magis itu 25 tahun yang lalu.

« Pembantaian yang sangat kejam. Seratus orang dalam satu baris, crok...crok…crok. » Ia melakukan gerakan tangan seolah memotong padi. «Semuanya mati dalam satu lobang. Menyusul kemudian seratus orang yang lain. »  Ia menunjuk jauh ke jalan pedesaan yang didekap kegelapan. «  Semuanya mati dalam satu lobang. »

Kemudian ia tersenyum lagi. « Mengerikan – yang Putih dan yang Merah ». Yang Putih ? Dirabanya tembok putih di belakangnya. « Para pembunuh menutup mata para korban dengan kain putih. Sehingga mata mereka tidak dapat melihat dunia lain. »

« Yang Merah ? » Ia seolah mencelupkan jari-jarinya ke dalam kubangan dan membasahi lidahnya. « Kemudian mereka (para pembunuh, pen.) meminum darah para korban. Sehingga arwah si korban tidak akan mengganggu mereka selama tujuh turunan ».

Laporan John Gitting selanjutnya mengungkapkan bagaimana terjadinya kudeta militer yang berhasil di bawah komando Jenderal Suharto yang menumbangkan pemerintahan Presiden Sukarno. Teriring manifestasi aksi teroris yang direncanakan sehingga menelan korban yang teramat besar.

« Pembantaian terhadap sekitar seperempat juta orang Indonesia – mungkin jumlahnya dua kali lipat – pada akhir tahun 1965, adalah kekejaman terkeji dalam pertengahan abad lalu yang terlupakan. Hal itu dilakukan dibawah petunjuk tentara yang berkuasa dewasa ini…» Tulis John Gitting. « Dokumen-dokumen tentang kekejaman yang dilakukan secara intensif pada bulan Oktober sampai Desember 1965 dan beberapa tahun berikutnya, menjijikkan bila dibaca kembali. »

« Luweng (lobang dalam tanah, pen.), hutan, laut dan kemudian luweng lagi. Semuanya merupakan tempat bernoda untuk mengubur tubuh-tubuh manusia. Para tahanan ditutup matanya, kedua tangannya diikat kuat-kuat dengan kawat, dimasukkan ke dalam truk di tengah malam dan dibawa melewati jalan berlumpur ke suatu tempat dimana serdadu-serdadu telah menantinya. Njoto, seorang menteri di bawah Sukarno dan orang kedua (orang ketiga, pen.) dalam pimpinan PKI telah dipindahkan dari penjara oleh orang-orang Suharto dengan dalih ‘meminjamnya’. Tubuh Njoto tak pernah ditemukan… Gerombolan-gerombolan pemuda Islam mendatangi kampung-kampung yang sepi seraya menakut-nakuti para tetangga yang melihatnya. ‘Pada jam 3 pagi, tanpa ditanya sesuatupun, Sumo Kamin (seorang petani di desa Banjarharjo) dibantai di belakang rumahnya. Perutnya disobek, usus-ususnya dikeluarkan dan ia ditinggalkan begitu saja. Ketika isterinya kemudian mengetahui apa yang terjadi, ia menjadi histeris’… Rakyat yang ketakutan telah dipaksa tentara untuk menangkap siapa saja yang dicurigai sebagai komunis… »

Berkenaan dengan pembunuhan massal yang terjadi, dalam laporannya itu John Gitting mengutarakan, bahwa : Pada Desember 1965 Sukarno mengirimkan missi pencari fakta (facts finding mission) untuk menyelidikinya. « Di mana saja mereka tiba, mereka dihadapkan pada agenda yang telah ditetapkan militer. Penduduk yang loyal mengajukan petisi bagi pelarangan PKI, dan jumlah korban yang mati dilaporkan jauh di bawah angka sebenarnya. … Di Denpasar, ibukota Bali, seorang anggota senior komisi berhasil menyelinap keluar hotel melalui dapur dengan bantuan pegawai hotel. Pada larut malam itu ia berjumpa dengan seorang polisi yang tetap setia kepada Sukarno, yang mengemukakan kepadanya bahwa jumlah korban yang dibunuh sebenarnya bukan 3.000 melainkan 30.000. Di Jawa Timur seorang komandan polisi militer mengakui bahwa jumlah resmi 5.000 korban sebenarnya mungkin berlipat ‘paling tidak delapan kali’. .. Sekembalinya di Jakarta, komisi itu menyampaikan kesimpulan resmi mereka kepada pers dunia, bahwa ‘hanya 80.000 korban yang telah meninggal di seluruh Indonesia. … Sukarno diberi laporan rahasia bahwa angka korban yang sebenarnya adalah sekitar empat atau enam kali lebih tinggi (secara kasar 320.000 sampai 480.000). Menteri Luar Negeri Adam Malik yang mengkordinir haluan politik luar negeri baru Indonesia yang anti komunis bersama-sama Amerika Serikat, mengatakan kemudian secara pribadi bahwa jumlah korban sekitar 600.000. Bahkan ada seorang bekas Menteri yang memperkirakan jumlah itu mencapai satu juta. »

Demikian cuplikan mengenai manifestasi aksi teror dari laporan John Gitting yang kami turunkan di Majalah Arena N° 2 Januari 1991 pada halaman 12 – 22 itu. Salah sebuah dari sekian banyak bahan pertimbangan yang bermakna penting, yang isinya sangat berbeda dengan argumentasi yang dijajakan Ikranagara. Namun, tak urung, dalam dokumentasi lainnya pun, bisa diketahui bagaimana sikap-pendirian Ikra dan kaum pendukung Manikebu/OrBa lainnya terhadap Pramoedya Ananta Toer. Seperti yang diutarakan Ikra dalam artikelnya di Suara Pembaruan 30 Oktober 1992 berjudul : Humanisme Dan Antihumanisme.  Dalam mana orang bisa membaca pendapat Ikra yang memberi cap untuk Pramoedya sebagai pengarang yang antihumanisme.

Begitulah Ikranagara dengan opininya dalam tahun 1992. Begitulah pula rupanya yang mendasari sikap-pendiriannya untuk turut menanda-tangani pernyataan duapuluhan penulis yang menggugat penganugerahan Magsaysay Award untuk Pramoedya dalam tahun 1995. Dan sikap-pendiriannya itu diulang-tegaskan dalam postingannya di Milis Apsas awal Oktober 2008 ini. *** (28.11.2008)

Catatan : Masih akan disambung ke bagian (11) mengenai soal yang dijadikan persoalan lainnya.
Artikel  Suharto Dan Lobang Gelap Di Bali oleh John Gitting pertama kali disiar Guardian Minggu, terjemahan bahasa Indonesianya kami petik dari Untuk Demokrasi Dan Kebebasan nomor Oktober 1990.
Majalah Opini & Budaya Pluralis ARENA  terbitan Stichting I.S.D.M., Culemborg, Nederland. ISSN 0925-5575. Editor Abe alias A.Kohar Ibrahim.


 

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.