| Korban | ||||
|
|
Korban Cerpen: A. Kohar Ibrahim LONCENG berdentang. Pukul sebelas. Malam. Kecuali halaman satu dan dua, lainnya sudah rampung. Tinggal untuk kolom-kolom headline di halaman satu dan di halaman dua editorial. Di sudut kiri atas. Danarto yang bertugas melaporkan berlangsungnya malam peringatan Supersemar belum kembali. Sedangkan editorial yang sedang disusunnya tersangkut pada soal angka. Dia berniat menulis jumlah korban yang jatuh setelah terjadinya Peristiwa 30 September itu betul-betul masuk akal. Tidak dibesar-besarkan dan tidak pula dikecil-kecilkan. "Tiba waktunya obyektivitas dihidupkan kembali," desisnya. Baru kali ini dirasakan kesulitan luarbiasa dalam menentukan angka yang akan diumumkannya. Angka dalam sejarah. Dalam politik. Bagian dekumentasi menyodorkan berkas-berkas berita yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Baik dari sumber resmi maupun yang tidak resmi. Menteri Kilamada, misalnya, menyatakan di depan para wartawan dalam dan luar negeri bahwa dalam periode transisi Ordelama-Ordebaru, korban yang jatuh hanya sebanyak 190.000 jiwa. Sedangkan Menteri Keamanan dan Ketertiban menyatakan 400.000 jiwa. Dan lain sebagainya yang kesemuanya menunjukkan angka kurang dari sejuta. Sedangkan pihak pers atau pengamat luar negeri kecenderungannya juga ataukah merendahkan ataukah meninggikan dan bahkan melipatgandakannya. Sampai-sampai ada yang menyatakan jumlah korban itu antara sejuta hingga satu setengah juta jiwa. "Ah, angka-angka itu! Kayak lotere saja," desisnya. Menyalakan rokok. Mereguk kopi. Sebentar menghisap rokok sebentar minum kopi sembari membalik-balik berkas berita lama. Kamar kerjanya bau asap rokok kretek cukup keras. Tapi dia tidak ambil pusing. Sambil terus mengepulkan asap rokok dia berusaha menyegarkan ingatannya. DIRINYA sendiri memang tak pernah melupakan tragedi nasional yang berlangsung sejak 30 September -- atau lebih tepatnya sejak 1 Oktober 1965 itu. Setelah kegagalan gerakan kelompok kecil kaum militer yang dikepalai oleh Letkol Untung. Hanya dalam waktu beberapa jam saja -- dalam permainan perebutan kekuasaan itu -- kaum militer yang anti-komunis berhasil menguasai situasi. Mencengkam jantung dan urat nadi negara. Kaum Komunis dan kaum progresip serta simpatisannya terjebak dan hanyut dala arus-balik perjuangan. Dengan kerjasama yang erat dengan kaum militer, kekuatan anti-komunis sipil memburu, menangkap, menyiksa dan membunuh semua orang yang dicurigai. Di kota-kota besar, kecil atau di daerah-daerah di mana pengaruh komunis besar maka korban yang jatuh pun besar pula. Dia pernah menjalankan tugas ke Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali pada saat-saat paling gawat itu. Disaksikannya sendiri bagaimana para tawanan digiring seperti kaum budak-belian. Dari wajah-wajah yang suram tanpa sinar mata, tergambar kekecewaan dan ketakutan mereka yang teramat sangat. Betapa tidak, prajurit-prajurit yang mereka anggap sebagai pelindung rakyat itu kini menangkap menembaki mereka. Perorangan tau pergrup. Malah secara massal. Setelah dipaksa menggali lubang besar bagi kuburan mereka sendiri. Atau seperti yang dilakukan pasukan-pasukan anti-komunis diberbagai desa yang memendam hidup-hidup hasil tangkapan mereka. Ada pula yang dilempar ke sungai setelah digorok seperti ayam. Dan macam-macam lagi. Banyak sekali. Eksekusi-eksekusi yang dilakukan secara spontan atau yang direncanakan. Mayat-mayat bergelimpangan. Rumah-rumah tahanan penuh sesak. Sejumlah sekolahan pun ada yang digunakan sebagai tempat tahanan. Selain didirikannya kamp-kamp konsentrasi. "Korban itu, ah, berapa banyak?" desisnya lagi. Sungguh, setelah sekian lama bermain-main dengan angka, kini dia ingin mengetengahkan angka korban yang mendekati kenyataan. Tangannya membuka halaman-halaman buku telpon. Menekan nomor telpon rumah Menteri Kilamada. Suara wanita menjawab. Dia minta maaf, lantaran terpaksa mengganggu. Menjelaskan maksudnya. Dan wanita itu menjelaskan pula, bahwa dia sama sekali tidak merasa terganggu -- lantaran hanya sedang memutar kaset video. Tetapi mengenai suaminya, Bapak Menteri Kilamada itu, ditegaskannya dengan nada sedih. Sudah beberapa tahun meninggal dunia. "Saya tahu, Bu. Tapi sudikah kiranya Ibu membantu kami?" katanya mendesak dengan nada ramah. "Barangkali Bapak pernah menyinggung soal jumlah korban itu ketika ngobrol dengan Ibu." "Ah, sayang sekali, tak pernah," kata Nyonya Kilamada. "Bapak rupanya enggan menyinggung soal yang tragis itu," sambungnya. Lalu ia menyatakan dukacitanya yang tak kunjung habis. Bukan atas korban yang menjadi pokok pembicaraan, melainkan atas suaminya yang mati digerowoti kangker. "Terima kasih, Bu," ujarnya memotong. "Sungguh, saya juga menyesal sekali." Lalu, ditelponnya rumah Menteri Subakin. Tak berjawab. "Ah, tentu saja kosong," pikirnya. Tentu saja dia sedang berada ditempat upacara peringatan hari bersejarah itu. Dicobanya menelpon kantor Bagian Keamanan dan Ketertiban. Akan tetapi jawaban yang diperoleh cuma: "Maaf, Pak. Yang bertanggung-jawab tidak ada di tempat." "Sialan!" gumamnya seraya meletakkan gagang telpon keras-keras. Mereguk kopi. Merokok. Menelpon lagi. Seorang tokoh pergerakan buruh. Sudiman. Dia kenal sekali tokoh serikat buruh kanan yang belakangan ini nampak kehidupannya serba mewah. Sesungguhnya, organisasi yang dipimpinnya itu tidak menggunakan istilah buruh, melainkan karyawan. Dan hubungannya dengan penguasa dekat sekali. Di zaman Orbdelama dia memang elemen militer yang paling anti-Sobsi. Tapi lancar sekali kalau mengomentari kebesaran dan kekiprahan organisasi buruh terlarang itu. Sebagaimana juga dalam mengomentari ormas-ormas lainnya seperti BTI, Gerwani, Pemuda Rakyat dan lain sebagainya yang ada di sekitar PKI. Dan PKI itu sendiri umum telah mengetahui, anggotanya lebih dari tiga juta orang. "Memang, korban cukup banyak ketika terjadi huru-hara itu," kata Sudiman tokoh kaum karyawan itu. "Lima persen saja dari belasan juta orang komunis dan pendukung komunis, sudah berapa? Persisnya? Aku ndak tau." LONCENG berdentang. Pukul sebelas tigapuluh. Hampir tengah malam. Reporter Danarto telah kembali. Segera dipanggilnya. Tanyanya: "Gimana, To? Meriah?" "Cukup hangat," jawab sang reporter. "Tapi tak banyak yang bisa kita umumkan. Kerna itu, makalah yang sudah saya susun itu hanya akan mengalami sedikit perubahan saja." "Ketemu Pak Subakin?" tanyanya penasaran. "Ya. Dengan yang lainnya juga. Tapi dengan dia cuma sempat bicara beberapa menit saja. Saya ajukan soal yang kemarin kita diskusikan. Mengenai teka-teki jumlah korban ... " "Apa reaksinya? Justeru edito yang sedang kusiapkan ini mandek lantaran soal jumlah korban itu. Gimana?" "Saya sengaja mensitir angka yang diajukan Profesor Bob Mereng yang satu setengah juta itu. Tapi nampaknya Pak Subakin agak tersinggung. Dia bilang, persetan dengan obrolan profesor bule yang pikun itu. Ketika saya desak, dia mengajukan angka 600.000. Itu lebih faktual, katanya. Lalu mengingatkan, bahwa semboyan yang dicanangkan saat itu adalah "Satu Jenderal : Seratus ribu komunis". Hitung saja ada berapa jenderal yang tewas, kalihkan, maka terjawablah angka teka-teki itu. Namun ketika saya desak lagi, sebagai rentetan para korban saat itu dengan anggota-anggota keluarga mereka, bukan saja yang tewas tapi juga mereka yang dibuang ke Pulau Buru, nampaknya dia gugup. Tapi kemudian dia memperingatkan, bahwa yang dipersoalkan itu korban langsung, bukan embel-embelnya. Dan saya desak terus dengan menyatakan bahwa anak-siteri mereka juga menderita. Sampai sekarang. Itu kalau mau obyektip." "Dan reaksinya?" "Ketus. Jangan sok obyektip-obyektipan, katanya. Kerna yang obyektip bagi kita yalah terkonsolidasinya keamanan dan ketertiban. Untuk Pembangunan. Lantas dia mengusulkan agar kita menurunkan berita berjudul: Setelah kegagalan G30S./PKI, akibat amarah rakyat, banyak korban jatuh." "Agaknya dia memang tak menyukai angka." "Begitulah. Karena jika mau dianalisa berdasarkan logika dan kenyataan apa adanya, para korban itu runtunannya panjang. Sampai sekarang. Dengan dikeluarkan dan dilaksanakannya peraturan bersih lingkungan. Bayangkan ... " Dia menghela nafas panjang. Hening sejenak. Lonceng berdentang. Pukul duabelas. Tengah malam. Pukul satu deadline. Waktu memburu mereka. "Baiklah. Siapkan dan turunkan segera makalahmu itu. Halaman satu," katanya pada Danarto. "Apa boleh buat. Koran kita harus hidup terus," desisnya. Pasrah. Hanya dalam beberapa menit saja editorial yang disusunnya rampung. Tanpa mengetengahkan secara obyektip jumlah korban demi tegaknya Ordebaru. Hanya dengan kata-kata niskala: cukup besar. (Oktober 1988) *** (Dari buku kumpulan cerpen « Korban », terbitan World Citizen Press/Stichting Budaya, Amterdam 1989 ; ISBN 90-72669-02-09). Disiar ulang di beberapa blog/situs antara lain Apsas, ACI – Art Culture Indonesia 1 Oktober 2008.
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|











