| Lelaki Wanita Sesama Umat | ||||
|
|
A.Kohar Ibrahim :
Jika Dulah kedua belah kakinya buntung kerna ledakan ranjau, yang lainnya kena ledakan bom dari pesawat Amerika Serikat. Sekalipun asal dan kedudukan mereka berbeda, tapi keempatnya bernasib sama. Dalam keadaan antara hidup dan mati di mulut gua bukit Hijau itu. Sedangkan sejumlah anggota pasukan lainnya sudah benar-benar mati seketika. Dengan tubuh terkeping-keping. Hanya lantaran terlambat beberapa menit saja. Waktu beberapa menit, dalam situasi peperangan rupanya bisa menentukan hidup mati atau utuh hancurnya suatu pasukan. Bisa menentukan kalah atau menangnya pertempuran. Sekali pun ada sebab-sebab lainnya yang mendahului waktu sesingkat itu. Seperti tingkah ulah anggota pasukan dan sang komandannya sendiri.
Gua di kaki bukit Hijau itu memang salah satu tujuan untuk menjalankan taktik mundur untuk kembali menggempur. Setelah kota Mazar-I-Sharif jatuh ke tangan pasukan mujahidin Aliansi Utara dengan memanfaatkan gempuran pesawat pembom AS. Seperti pada saat-saat lainnya, ketika berpatroli atau menggempur musuh, untuk perjalanan mundur dengan secepat-cepatnya itu juga, komandan Salim Khan memerintahkan siapa-siapa yang menjadi perintis atau menerobos jalan duluan secara tidak adil. Yakni, urutannya selalu yang terlebih dulu anggota pasukan asal Afghanistan, Filipina, Malaysia dan seterusnya hingga yang paling ujung dibelakang adalah orang Pakistan atau orang Arab. Begitulah Dulah, orang asal Aljazair tapi kelahiran Hamburg itu diperintahkan sebagai perintis. Padahal sang komandan tahu, Dulah termasuk kaum yang tidak puas atas bleidnya yang pilih-kasih. Orang-orang asal Arab dan Pakistan mendapat perhatian atau perintah yang bersifat menguntungkan atau perlindungan, sedangkan yang lainnya adalah sebaliknya. Yang paling menjengkelkan adalah memang ketika mendapat perintah sebagai perintis. Kerna, jika sangat gampang melakukan tugas memecuti orang yang bandel di pasar-pasar, atau memotong tangan para pencuri, menembak, penjinah atau malah berhadapan dengan musuh di medan tempur, maka nenghadapi bahaya yang tak nampak seperti ranjau-darat itu jauh lebih mendebarkan hati. Sudah banyak anggota milisia yang tewas secara naas. Tewas bukan di medan pertempuran melawan pasukan Aliansi Utara melainkan oleh musuh yang tersembunyi di bawah tanah dan tertebar di segenap penjuru kawasan Afghanistan itu ! Lazimnya, Dulah termasuk yang taat, tapi ketika mendapat perintah terakhir itu dia menampakkan keraguannya. Dan kontan kena semprot Salim Khan, dengan pertanyaan yang memojokkannya : « Kamu sukarelawan sejati atau apa ? » Dulah tak berkutik dihadapan sang komandan pasukan yang didampingi Abubaker, salah seorang anak buah kesayangannya. Dalam menjalankan perintah diikuti oleh pasukan jarak belasan meter, Dulah sebenarnya bukan taat tapi nekat. Untung-untungan saja yang mengakibatkan kedua-belah kakinya buntung. Kemudian tertimbun tanah bercampur batu-batu akibat gempuran bom-bom Amerika Serikat yang bertubi-tubi.
Sekalipun seperti acuh tak acuh sesekali mereka menatap tubuh-tubuh mereka yang separuh tertimbun. Juga mereka seperti acuh tak acuh saja ketika pesawat-pesawat pembom Amerika Serikat terus menderu di ketinggian langit sambil menuangkan bom-bom ke bumi. Sedangkan jarak beberapa kilometer dari kaki bukit itu barisan panjang lelaki dan wanita, anak-anak dan orang tua-tua, mengayunkan langkah lelah menuju pusat pengungsian yang masih jauh di perbatasan Afghanistan dan Pakistan. ***
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|











