Lelaki Wanita Sesama Umat
Oleh A.Kohar Ibrahim    Jumat, 12 September 2008 04:40    PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

A.Kohar Ibrahim :


Lelaki Wanita Sesama Umat


Cerpen « afghan » (2)


TUBUH Dulah melambung ke angkasa seiring dentuman ledakan yang mengejutkan dan membikin pasukan milisia Taliban itu buyar dalam kepanikan. Suara itu bukan saja telah membikin telinganya nyaris tuli, tapi juga telah mengakibatkan kedua belah kakinya hancur, buntung mulai dari lututnya. Lebih-lebih lagi, dentuman itu juga diiringi suara ledakan beruntun lainnya. Ledakan bukan berasal dari dalam bumi, melainkan yang turun dari langit. Maka dalam sekejap mata saja, bukan hanya Dulah yang menjadi korban, melainkan juga beberapa anggota pasukan lainnya - Binmasud, Abubaker dan  komandan Salim  Khan.

 

Jika Dulah kedua belah kakinya buntung kerna ledakan ranjau, yang lainnya kena ledakan bom dari pesawat  Amerika Serikat. Sekalipun asal dan kedudukan mereka berbeda, tapi keempatnya bernasib sama. Dalam keadaan antara hidup dan mati di mulut gua bukit Hijau itu. Sedangkan sejumlah anggota pasukan lainnya sudah benar-benar mati seketika. Dengan tubuh terkeping-keping. Hanya lantaran terlambat beberapa menit saja.

Waktu beberapa menit, dalam situasi peperangan rupanya bisa menentukan hidup mati atau utuh hancurnya suatu pasukan. Bisa menentukan kalah atau menangnya pertempuran. Sekali pun ada sebab-sebab lainnya yang mendahului waktu sesingkat itu. Seperti tingkah ulah anggota pasukan dan sang komandannya sendiri.


MEMANG pada mulanya segalanya sangat ideal sekali. Kerna merasa menjadi anggota pejuang bertujuan suci. Di bawah bendera yang sama. Sebagai sesama umat. Sesama saudara yang senasib sepenanggungan. Tetapi dalam prilaku sehari-hari, dalam menjalankan tugas dan terutama sekali di medan pertempuran, terjadi kelainan. Dulah dan Binmassoud menyedari sekali hal ini. Perintah komandan Salim Khan yang teakhir yang mengakibatikan kedua-belah kakinya buntung dan kemudian tertimbun tanah hingga dalam keadaan hidup-mati itu adalah salah satu buktinya.

Gua di kaki bukit Hijau itu memang salah satu tujuan untuk menjalankan taktik mundur untuk kembali menggempur. Setelah kota Mazar-I-Sharif jatuh ke tangan pasukan mujahidin Aliansi Utara dengan memanfaatkan gempuran pesawat pembom AS. Seperti pada saat-saat lainnya, ketika berpatroli atau menggempur musuh, untuk perjalanan mundur dengan secepat-cepatnya itu juga, komandan Salim Khan memerintahkan siapa-siapa yang menjadi perintis atau menerobos jalan duluan secara tidak adil. Yakni, urutannya selalu yang terlebih dulu anggota pasukan asal Afghanistan, Filipina, Malaysia dan seterusnya hingga yang paling ujung dibelakang adalah orang Pakistan atau orang Arab. Begitulah Dulah, orang asal Aljazair tapi kelahiran Hamburg itu diperintahkan sebagai perintis. Padahal sang komandan tahu, Dulah termasuk kaum yang tidak puas atas bleidnya yang pilih-kasih. Orang-orang asal Arab dan Pakistan mendapat perhatian atau perintah yang bersifat menguntungkan atau perlindungan, sedangkan yang lainnya adalah sebaliknya. Yang paling menjengkelkan adalah memang ketika mendapat perintah sebagai perintis. Kerna, jika sangat gampang melakukan tugas memecuti orang yang bandel di pasar-pasar, atau memotong tangan para pencuri, menembak, penjinah atau malah berhadapan dengan musuh di medan tempur, maka nenghadapi bahaya yang tak nampak  seperti ranjau-darat itu jauh lebih mendebarkan hati.

Sudah  banyak anggota milisia yang tewas secara naas. Tewas  bukan di medan pertempuran melawan pasukan Aliansi Utara melainkan oleh musuh yang tersembunyi di bawah tanah dan tertebar  di segenap penjuru kawasan Afghanistan itu ! Lazimnya, Dulah termasuk yang taat, tapi ketika mendapat perintah terakhir itu dia menampakkan keraguannya. Dan kontan kena semprot Salim Khan, dengan pertanyaan yang memojokkannya : « Kamu sukarelawan sejati atau apa ? »

Dulah tak berkutik dihadapan sang komandan pasukan yang didampingi Abubaker, salah seorang  anak buah kesayangannya. Dalam menjalankan perintah diikuti oleh pasukan jarak belasan meter, Dulah sebenarnya bukan taat tapi nekat. Untung-untungan saja yang mengakibatkan kedua-belah kakinya buntung. Kemudian tertimbun tanah bercampur batu-batu akibat gempuran bom-bom Amerika Serikat yang bertubi-tubi.


SEKETIKA Dulah dan anggota serta komandan pasukan itu kini berkumpul di mulut gua bukit Hijau itu. Ternyata, selain mereka berempat juga ada beberapa lelaki dan  beberapa wanita yang mengaku sudah lebih dulu menghuni gua itu. Kemudan semuanya membikin formasi berupa lingkaran. Sama-sama duduk bersila. Tidak ada lagi tanda-tanda nafsu syahwat dan kekayaan maupun diskriminasi asal atau kedudukan.  Sama rasa sama drajat. Ngobrol santai sesama umat seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Sekalipun seperti acuh tak acuh sesekali mereka menatap tubuh-tubuh mereka yang separuh tertimbun. Juga mereka seperti acuh tak acuh saja ketika pesawat-pesawat pembom Amerika Serikat terus menderu di ketinggian langit sambil menuangkan bom-bom ke bumi. Sedangkan  jarak beberapa kilometer dari kaki bukit itu barisan panjang lelaki dan wanita, anak-anak dan orang tua-tua, mengayunkan langkah lelah menuju pusat pengungsian yang masih jauh di perbatasan Afghanistan dan Pakistan. ***

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Vnet

Iklan Kampanye

Advertising

Top Kontributor

Anda sedang menggunakan Internet Explorer 6 (IE6).

Browser anda Sebaiknya di upgrade ke version 7 Internet Explorer (IE7)

Free Update silahkan kunjungiInternet Explorer 7 worldwide page.