| Hanya Indonesia bisa saingi Cina | ||||
|
|
Negara mana yang menduduki urutan kedua ? Jawabannya adalah Indonesia. Dengan tambahan dua gelar yang direbut di Kuala Lumpur dari ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan dan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir, Indonesia sudah merebut 18 gelar juara.
Dengan menambah tiga gelar juara di Stadion Putra, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Cina sudah merebut 39 gelar juara dunia, sejak kejuaraan dimulai di tahun 1977. Dia menjadi pemain kedua setelah Yang Yang yang berhasil melakukannya. Di bagian putri, dengan Cina begitu dominan dalam dua puluh tahun terakhir, para pemain terus mencatat rekor baru, dan tampaknya tidak akan bisa dipecahkan oleh pemain dari negera lain, kecuali oleh para pemain Cina sendiri. Di tunggal putri, sejak tahun 2001, semua gelar direbut oleh Cina, dengan lima pemain berbeda. Gong Ruina di tahun 2001, Zhang Ning di tahun 2003, Xie Xinfang dua kali berturut-turut di tahun 2005, dan 2006 dan tahun ini, muncul juara baru Zhu Lin. Beban moral Negara mana yang menduduki urutan kedua ? Jawabannya adalah Indonesia. Dengan tambahan dua gelar yang direbut di Kuala Lumpur dari ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan dan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir, Indonesia sudah merebut 18 gelar juara.
Posisi ketiga ditempati oleh Korea Selatan dengan sembilan gelar, Denmark delapan gelar. Sisanya adalah Inggris merebut tiga gelar, Amerika Serikat, Jepang dan Swedia sama-sama pernah merebut satu gelar juara. Mengapa menarik untuk mengutak-atik statistik ini? Ini menunjukkan bahwa selama ini dalam dunia bulu tangkis yang bisa menyaingi Cina adalah hanya Indonesia. Oleh karenanya merupakan beban moral bagi kubu Indonesia untuk tidak membiarkan Cina terus merajalela. Sejak Cina bergabung dengan Federasi Bulu tangkis Internasional (IBF), yang sekarang berubah menjadi BWF (Badminton World Federation) di akhir tahun 1970-an, Cina memang secara perlahan dan pasti mengambil alih posisi Indonesia, sebagai kekuatan nomor satu. Pada tahun 1980-an, Indonesia masih mampu bersaing, namun sejak krisis ekonomi melanda di tahun 1998, posisi Indonesia pun melemah. Indonesia hanya mampu merebut satu gelar juara dunia yaitu lewat Hendrawan di tahun 2001, sebelum empat tahun kemudian Taufik Hidayat merebut juara di tahun 2005, bersama Nova Widianto/Lilyana Natsir. Tampak kesan PB PBSI mulai kembali lagi dengan prestasinya untuk mencetak juara. Olimpiade Beijing 2008 akan menjadi ujian, apakah ada gelar yang bisa direbut pemain Indonesia, mengulangi sukses Taufik Hidayat di Athena tahun 2004. Kalau kita melihat statistik terutama berkenaan dengan kejuaraan dunia, cukup mengherankan bahwa negeri seperti Malaysia belum pernah mencetak satu orang juarapun. Penonton antusias Harapan terbesar di kejuaraan tahun ini yang dibebankan ke pundak unggulan kedua Lee Chong Wei di tunggal putra, dan unggulan kedua Koo Kien Keat/Tan Boon Heong gagal menjadi kenyataan. Kejuaraan ini dilangsungkan di Malaysia dengan harapan bahwa mereka bisa mencetak juara, guna merayakan 50 tahun kemerdekaan negara itu tanggal 31 Agustus. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa betapa tidak mudahnya untuk mencetak seorang juara. Indonesia sudah bertahun-tahun mampu melakukannya, dengan dukungan yang "naik turun" dari berbagai pihak. Cina memiliki sistem yang lebih "stabil" dalam hal ini. Tidak mengherankan bila pemain yang dikirim CIna ke luar negeri selalu adalah pemain yang sudah matang. Pemain yang sudah melewati persaingan ketat di dalam negeri. Hal yang sama tidak selalu berlaku di Indonesia, tapi kenyataan menunjukkan bahwa dalam perjalanan waktu, Indonesia masih tetap menjadi Negara nomor dua terkuat di dunia bulutangkis. Korea Selatan di tempat ketiga tidaklah pernah betul-betul memiliki kekuatan yang lengkap. Di satu masa mereka pernah menciptakan pemain sekaliber Park Joo-bong/Kim Moon-soo, namun sejak Park Joo-bong mundur di tahun 1980-an, Korea Selatan belum mampu lagi mencetak juara baru di ganda putra. Secara sporadis, Korea Selatan mencetak juara di ganda putri, dan ganda campuran. Namun mereka belum pernah bisa mencetak juara untuk tunggal putra. Nah, Indonesia lebih lengkap, hampir sama seperti Cina, kecuali di nomor tunggal putri, mencetak berbagai juara. Bedanya dengan Cina adalah Indonesia belum pernah memiliki kekuatan yang merata di saat bersamaan, kecuali di tahun 1979, ketika kejuaraan diselenggarakan di Jakarta. Tidak pernah terulang Ketika itu Indonesia merebut lima gelar yang dipertandingkan dengan Christian Hadinata merebut dua gelar sekaligus, juara ganda putra bersama Ade Chandra dan ganda campuran bersama Imelda Wigoena.
Para pengurus bulu tangkis di Indonesia terus berupaya membina para pemain, namun dukungan ini sudah waktunya mendapatkan perhatian dari kalangan lebih luas, termasuk pemerintah. Bulu tangkis sudah terbukti menjadi satu-satunya cabang olahraga dalam 50 tahun terakhir yang membuat Indonesia mampu berprestasi di tingkat dunia. Statistik sudah menunjukkan hal tersebut, dan waktunya Indonesia terus berupaya untuk mengejar Cina, karena tidak ada lagi negara lain yang mampu melakukannya.
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||
| Terakhir Diupdate ( Kamis, 01 Januari 2009 09:31 ) | |||||||||||||||||||||||||||||||||











